Selasa, 17 September 2013

kejahatan Amerika terhadap Dr.Aafia Siddiqui ilmuwan biologi asal Pakistan

Warning..!. untuk pembaca Kaum Kuffar dan sekutu nya Thogut serta Jaringan Iblis Laknatullah (JIL). Ini bukan cerita sampah.., dan kisah ini jg bukan bermaksud ...menghina serta menghujat anda2 pengikut Thogut dan sekutu2 Anda kaum Kuffar laknatullah. Tapi kisah ini sebuah realita dari sekian banyak Fakta Licik dan kedhaliman kaum angkara murka terhadap yg Nama nya Islam.., Muslim dan Muslimah Nya. Kisah ini juga sebuah kenyataan pahit yg memilukan yang telah menimpa seorang Muslimah saudari kami Ummat Muslim dunia.

Dan untuk saudara2 seIman dan seIslam.., semoga kisah ini bisa menjadi cemeti bara buat kita semua. demi kokoh nya Ukhwah Islamiah..!

Tolong di baca tuntas kisah ini..,biar anda2 semua akan terbuka mata hati nya. Dan bisa membedakan;

Yang mana Air, yang mana Api..
Yang mana kebaikan, yang mana kejahatan…
Yang mana Kemuliaan, dan yang mana KEPARAT HARAM JADAH nya..!.

# Kasus yg sama (sebagai perbandingan); Pada bulan Maret 2009, dua orang wartawati Amerika; Euna Lee dan Laura Ling, ditahan oleh pasukan penjaga perbatasan Korea Utara ketika sedang melakukan liputan untuk sebuah acara TV terbaru yang berbasis di California. Mereka kemudian diadili dan dijatuhi hukuman penjara 12 tahun karena "berperilaku ganas" dan memasuki Korea Utara secara ilegal. Ketika menjalani hukuman penjara, pihak Amerika berusaha keras untuk membebaskan kedua wanita tersebut dan pada bulan Agustus 2009, mantan Presiden Amerika, Bill Clinton diutus untuk berbicara dengan Presiden Korea Utara, Kim Jong II. Pertemuan itu ternyata berhasil dan kedua wartawati Amerika itu kemudian dibebaskan.#

Dan inilah Kisah memilukan yang menimpa Saudari Muslimah kita Dr.Aafia Siddiqui;

Dr.Aafia Siddiqui adalah ilmuwan biologi jaringan saraf dan dididik sebagai ahli genetik. Setelah belajar 10 tahun di Amerika Serikat (AS) dan menyabet gelar Doktor di bidang Neuroscience Kognitif , Dr.Aafia Siddiqui yang berwarganegaraan Pakistan lalu pulang ke negeri asalnya. Sepuluh tahun lalu pada bulan Maret 2003 ia menghilang bersama 3 anaknya yang berumur 7 tahun, 5 tahun, dan 6 bulan ketika ia berkunjung ke rumah ibunya di Karachi.

Banyak yang menduga bahwa beliau telah dijemput dalam perjalanannya menuju ke airport oleh dinas rahasia Pakistan, yang lalu menyerahkannya ke FBI atas instruksi pemerintahan Musharraf yang menerima imbalan uang atas dukungannya terhadap AS. Penahanan Dr.Aafia Siddiqui dikonfirmasi oleh juru bicara kementerian dalam negeri Paksistan dan dua orang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya dalam media massa Pakistan berbahasa Urdu. Anehnya, hanya berselang beberapa hari saja, rezim Pakistan dan AS menarik pernyataan mereka dan menyangkal memiliki pengetahuan perihal penahanan dan letak penahanan Dr. Siddiqui.

Selama 5 tahun, keberadaan Dr. Siddiqui dan tiga anaknya tidak diketahui hingga perwira kepolisian Afghanistan di propinsi Ghazni menyatakan di bulan Juli 2008 bahwa Dr. Aafia Siddiqui ditangkap dengan tuduhan terorisme. Beliau lalu disekap di penjara di Brooklyn, New York. Dr.Aafia Siddiqui yang memiliki dua kewarganegaraan AS dan Pakistan kini menghadapi pengadilan AS dengan tuduhan usaha pembunuhan terhadap personil angkatan bersenjata AS di Afghanistan. Keberadaan tiga anaknya juga hingga saat itu belum diketahui.

Pengacaranya dan berbagai organisasi HAM (hak asasi manusia) meyakini bahwa setelah menghilang, Dr.Aafia Siddiqui disekap di pangkalan militer AS Bagram, di Afghanistan. Organisasi tersebut dan keluarganya mengklaim bahwa selama itu dia telah disiksa hingga kerusakan fatal pada Tubuh & jaringan syaraf nya.
Pengacaranya serta berbagai organisasi HAM tersebut percaya, bahwa Dr.Aafia Siddiqui adalah 'Tahanan 650' di Bagram, sebagaimana diceritakan oleh tahanan lainnya yang berhasil melarikan diri atau yg dilepaskan dari penjara tersebut.

Sebagai seorang wanita yang disekap dalam tahanan sendirian, jeritan dan teriakannya pun kerap terdengar & menghantui tahanan lainnya. Anggota parlemen Lord Nazir Ahmed yang mengangkat isu tentang kondisi Tahanan 650 di House of Lord, saat identitas tahanan 650 itu belum diketahui, berkata bahwa dia telah disiksa dan kerap diperkosa oleh sipir penjara. Lord Nazir juga mengatakan bahwa Tahanan 650 tidak diberikan toilet yang terpisah bahkan tahanan yang lain pun bisa melihat tubuhnya ketika mandi. Ataghfirullah..!.

Penistaan terhadap saudari Muslimah kita ini tidak berhenti di Bagram. Beliau kemudia ditahan di Pusat Penahanan Metropolitan Brooklyn, dan dipaksa untuk diperiksa dengan melepaskan seluruh pakaiannya, setiap kali ia hendak bertemu dengan pengacaranya, diplomat Pakistan, dan anggota keluarganya. Ini semua dilakukan bahkan ketika kantor penjara sudah melarang adanya kontak fisik antara dia dengan siapapun. Saudari Muslimah kita ini menolak penistaan semacam itu dan akibatnya harus melepaskan haknya untuk bertemu dengan pengacara & Keluarganya dalam banyak kesempatan.

Lalu Dr.Aafia Siddiqui menghadapi prosesi "Pengadilan Kanguru" dan "Pengadilan Politik" di AS, suatu prosesi untuk menghindarkan malu bagi AS, dan bukan tentang terorisme. Pengacaranya, Elaine Whitfield Sharp berkomentar bahwa kliennya ditahan karena alasan politik dan semua tuduhan padanya 'terbukti sebuah tuduhan yg di buat2 dan tidak pada tempat nya”.

Sangatlah aneh bila seorang perempuan yang digambarkan FBI selama 5 tahun sebagai wanita yang paling dicari dalam Perang melawan Teror, dan diduga ditahan oleh pemerintah Afghan dengan tuduhan membawa instruksi membuat bom dalam tasnya, dan menyimpan bahan kimia berbahaya dalam botol, kini akan menghadapi pengadilan dengan tuduhan kriminal biasa (percobaan pembunuhan dan penyerangan), yang tidak berhubungan dengan terorisme. Sebuah kebusukan licik dari kaum kuffar Amerika Laknatullah..!

Tuduhan kriminal tersebut berasal dari cerita pemerintah AS bahwa selama diinterogasi di Afganistan, Dr. Siddiqui merebut senapan interogatornya dan menembaki perwira AS. Ia lalu ditembak di dada dan dilumpuhkan, namun sempat menendang tentara AS yang berusaha untuk menahannya. Kalau terbukti, Dr. Siddiqui akan menghadapi 20 tahun penjara untuk setiap tuduhan.

Namun ada banyak ketidak cocokan terhadap cerita ini dan polisi Afganistan yang hadir dalam peristiwa interogasi tersebut punya versi yg berbeda. Beberapa diantaranya mengatakan kepada Reuters bahwa tentara AS memaksa supaya Dr.Aafia Siddiqui diektradisi ke AS dan ketika polisi Afghan menolak, mereka dilucuti senjatanya. Mereka juga mengklaim bahwa tentara AS-lah yang menembak Dr.Aafia Siddiqui dengan alasan bahwa ia adalah pembom bunuh diri. Astaghfirullah..!.

Lalu Putusanpun di jatuhkan;

“Dengan ini saya nyatakan Dr.Aafia Siddiqui menerima hukuman penjara selama 86 tahun, untuk percobaan pembunuhan petugas AS di Afganistan”. putus Hakim Richard Berman, Hakim Pengadilan Distrik AS di Pengadilan Federal di Manhattan pada 23 September 2010.

Tawaran naik bandingpun ditawarkan oleh penasehat Hukum nya. Dr.Aafia Siddiqui berkata; “Naik banding hanyalah kesia-siaan, Saya hanya meminta naik banding (Ampunan) sama Allah Ta’ala, Rabb nya Alam semesta”. SubhanAllah.......!.

Hingga kebusukan & keganjilan Ini menimbulkan banyak pertanyaan; Bagaimana mungkin seorang perempuan yang memiliki berat badan sekitar 45 kg ini, yang lemah lunglai dan harus dipapah untuk masuk ke ruang pengadilan di AS, mampu meronta dan menyerang sekelompok Perwira AS yg menahan nya..?. Lalu beliau pun di tembak di dada nya.
Pengacara Dr.Siddiqui, Elizabeth Fink menyatakan bahwa anggapan terhadap 'perempuan 45 kg' yang diduga mampu menimbulkan kekerasan sebagaimana dituduhkan oleh pemerintah AS sangatlah 'absurd'. IA Rehman, direktur Hak Asasi Manusia Pakistan, organisasi independen berkata bahwa cerita pemerintah AS adalah "kebohongan terbesar di abad 21 ini".

Tanggapan pemerintah dunia Barat dan penguasa Muslim, terutama pemerintah Pakistan terhadap peristiwa yang menimpa Dr.Aafia Siddiqui yang sangat memilukan ini sungguh menjijikkan.
Banyak sekali pertanyaan yang tidak terjawab. Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap penculikan nya? Kenapa beliau ditahan dalam waktu yang sangat lama di Bagram tanpa tuduhan dan tanpa pengacara?. Kenapa beliau diekstradiksi ke AS tanpa prosedur?. Dimana ke-3 anak-anaknya?. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang oleh pemerintah Barat, AS, dan Pakistan terkesan tidak mau peduli untuk memberi tahu jawabannya. Semoga Laknat Allah Ta’ala Di segerakan untuk mereka..!.

Keterlibatan pemerintah Pakistan dan ketidakpeduliannya terhadap perlakuan keji yang menimpa Saudari Muslimah kita ini adalah suatu tindakan kriminal. Sangatlah memalukan pemerintah Pakistan telah menyerahkan kedaulatan dan warga negaranya sendiri ke Amerika.., Sangatlah memalukan mereka telah menjual kehormatan saudari kita demi setumpuk kertas dolar.., Sangatlah memalukan mereka telah memberi upeti seorang putri ummat ini kepada mereka yang telah menebar kebencian terhadap Islam.

Pengkhianatan para penguasa muslim pun tidak mengenal batas. Mereka telah mengenyampingkan kebutuhan dan perlindungan hak-hak ummat dengan berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Bagaimana pemerintah rezim Musharaf bisa menerima fakta bahwa warganegara nya sendiri dilarikan ke Amerika dan menghadapi persidangan di sana tanpa mempertanyakan keabsahannya sama sekali ?.
Betulah Busuk dan Kejinya Pemerintahan Thogut yg sudi menukar harga diri dan kehormatan anak bangsa nya hanya untuk sebuah persekutuan bau sampah yg sangat menjijikkan.


Sekian..!.

Semoga Saudari Muslimah kita Dr.Aafia Siddiqui.., Selalu Diberi kekuatan Iman serta Limpahan Rahmat Kasih Sayang oleh Rabb Semesta Alam, Allah Subhanuhu Wa Ta’ala. Aamiin.., Allahumma Aamiin..!. Dan semoga Allah Ta’ala segera membinasakan kaum kuffar angkara murka serta sekutu2 nya. Allahumma Aamiin..!

Dari; Berbagai Sumber..

“Wahai ibu, setiap malam dalam mimpiku, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengunjungiku. Lalu Rasulullah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajakku untuk menemui istrinya Aisyah Radhiallahu Anhu, dan mengenalkan aku ke istrinya, dan beliau berkata pada Aisyah.. inilah putriku Aafia” Cerita Dr.Aafia Siddiqui pada ibunda nya.

Wallahu'Aklam Bishshawab...!.
Lihat Selengkapnya

Senin, 16 September 2013

Pesan jihad mujahidin ISIS dari bumi jihad Suriah untuk kaum muslimin
Ilustrasi
HAMAH (Arrahmah.com) – Perang pembebasan gudang-gudang senjata Brigade 66 merupakan sebuah operasi militer skala besar yang digelar oleh mujahidin Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS) di pinggiran Hamah Timur. Mujahidin ISIS selama lebih dari satu bulan melakukan pengintaian, pengumpulan informasi, perencanaan, dan persiapan sebelum operasi serangan.
Operasi serangan tersebut melibatkan ratusan mujahidin Daulah Islam Irak dan Syam dan menargetkan markas Brigade Pertahanan Udara, gudang-gudang senjata Batalion 66, puluhan posko militer, desa dan titik pasukan keamanan yang tersebar luas di pinggiran Hamah Timur. Operasi serangan dengan izin Allah sukses meraih target-target yang dicanangkan oleh mujahidin ISIS.
Yayasan Media Al-I’tisham, sayap media Departemen Informasi Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS) telah merilis video khusus berkaitan dengan kesuksesan merebut gudang senjata Brigade 66 di Hamah Timur. Video itu berisi pesan jihad dari Hamah Timur. Menenteng sebuah senapan Klashnikov dan duduk jongkok di atas sebuah tank, komandan mujahidin ISIS menyampaikan pesan-pesannya jihadnya kepada kaum muslimin. Berikut ini terjemahan pesan jihad sang komandan.
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarganya dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du.
Kepada saudara-saudaraku fillah (seagama)….
Kepada orang-orang yang tidak ikut bergabung dalam kafilah…
Kepada orang-orang yang Allah Ta’ala berfirman mengenai diri mereka:
رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ
Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang dan hati mereka telah tertutup sehingga mereka tidak memahami (kebahagiaan beriman dan berjihad).” (QS. At-Taubah [9]: 87)
Saya katakan kepada mereka dengan meminta pertolongan kepada Allah semata.. saya katakan kepada mereka sementara dalam hati saya ada perasaan menyayangkan atas apa yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin, yaitu darah yang ditumpahkan, kehormatan yang dinodai, wanita-wanita yang diperkosa…apa yang akan kalian katakan kelak di hadapan Allah Ta’ala jika kalian ditanya, sementara Allah telah berfirman:
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا
Berangkatlah kalian berperang dalam kondisi kalian merasa ringan maupun berat…” (QS. At-Taubah [9]: 41)
Dan Allah telah berfirman:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا
Maka mengapa kalian tidak berperang di jalan Allah (untuk membela) orang-orang yang ditindas dari kalangan laki-laki, wanita dan anak-anak yang berdoa ‘wahai Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya zalim ini, jadikanlah untuk kami dari sisi-Mu seorang pembela dan jadikanlah untuk kami dari sisi-Mu seorang penolong.” (QS. An-Nisa’ [4]: 75)
Dan Allah telah berfirman:
إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Jika kalian tidak mau berperang (di jalan Allah) niscaya Allah akan mengazab kalian dengan azab yang pedih, mengganti kalian dengan kaum lain (yang beriman dan berjihad di jalan-Nya) dan kalian tidak bisa mendatangkan bahaya apapun kepada Allah. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Taubah [9]: 39)
Apa yang akan kalian katakan kelak di hadapan Allah, sementara Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah bersabda:
«مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ، وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِالْغَزْوِ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ»
Barangsiapa tidak berperang (di jalan Allah) dan meniatkan di dalam dirinya untuk berperang (di jalan Allah) niscaya ia akan mati di atas salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim no. 1910, Abu Daud no. 2502 dan An-Nasai no. 3097)
Beliau bersabda demikian pada saat jihad hukumnya fardhu kifayah. Maka bagaimana lagi pendapatmu sementara saat ini jihad hukumnya fardhu ‘ain atas setiap muslim yang mampu dengan jiwa dan hartanya sampai berhasil dikembalikan jengkal bumi terakhir yang pada suatu hari dahulu pernah diperintah dengan hukum Islam.
Apa yang akan kalian katakan sementara Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah al-Harrani) telah menyatakan bahwa tiada kewajiban yang lebih wajib setelah beriman melebihi kewajiban menolak musuh yang menyerang agama dan dunia kaum muslimin.
Takutlah kalian kepada Allah, sebab pada pundak kalian ada tanggung jawab yang besar. Umat Islam memerlukan kalian, demi Allah, kami melihat bumi Syam begitu membutuhkan kedatangan mujahidin sehingga akan membuat kening kita berkerut karena rasa malu.
Saya katakan kepada para penuntut ilmu (kaum santri dan mahasiswa)…
Saya katakan kepada orang-orang yang menghiasi dirinya dengan ilmu namun mereka tidak mengamalkan ilmu tersebut…saya katakan, bertakwalah kalian kepada Allah, bersegeralah…bersegeralah. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ
Seandainya mereka benar-benar ingin berangkat berperang (di jalan Allah) tentulah mereka akan mempersiapkan perbekalannya, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka (orang-orang munafik)…” (QS. At-Taubah [9]: 46)
Demi Allah Yang tiada Ilah selain Dia…setiap pagi dan sore kita membaca doa “Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan kita, setelah sebelumnya mematikan kita, dan hanya kepada-Nya kita akan dikumpulkan.”
Demi Allah, di sini, di bumi jihad, kita menemukan kehidupan setelah sebelumnya kita mati. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah panggilan Allah dan Rasul-Nya jika mereka memanggil kalian untuk melaksanakan perkara yang mendatangkan kehidupan bagi kalian! Dan ketahuilah bahwasanya Allah menghalangi antara seseorang dengan hatinya dan bahwasanya hanya kepada-Nya saja kalian akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal [8]: 24)
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa perkara yang mendatangkan kehidupan bagi umat Islam (dalam ayat ini) adalah jihad. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:
«إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ»
Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‘ienah (ribawi), mengekor di belakang sapi (puas dengan peternakan), puas dengan pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan Allah cabut dari kalian sampai kalian kembali kepada (melaksanakan) agama kalian.” (HR. Abu Daud no. 3462 dan Ahmad no. 4825)
Maka bersegeralah…maka bersegeralah…!
Saudara-saudaraku… demi Allah Yang tiada Ilah selain-Nya, sesungguhnya kami menemukan bau wangi surga dengan jihad. 
Demi Allah Yang tiada Ilah selain-Nya, sesungguhnya kami menganggap remeh amal-amal kami, shalat malam kami, puasa sunnah kami, di hadapan amal perbuatan para ksatria (mujahidin) saat kami melihat realita…saat kami melihat darah (nyawa) dan tulang belulang yang telah dipersembahkan saudara-saudara kami untuk membela agama Islam.
Bergabunglah dengan kafilah, sebelum kesempatan itu berlalu.
Inilah yang bisa saya sampaikan kepada kalian dalam kesempatan waktu yang sempit ini. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya semata kita akan kembali.
Kami memohon kepada Allah Rabb ‘arsy yang agung, dengan nama-nama-Nya yang terbaik (asma’ husna) dan sifat-sifat-Nya yang mulia untuk memperbaiki kondisi kaum muslimin.
Kita memohon kepada Allah untuk menganugrahkan kemenangan kepada Daulah Islam dan menganugrahkan kemenangan kepada saudara-saudara kita mujahidin, menganugrahkan kepada kita tengkuk-tengkuk orang-orang Nushairiyah dan pihak-pihak yang membantunya.
Kita memohon kepada Allah untuk menghukum orang-orang Yahudi dan pendukung-pendukungnya, orang-orang Nushairiyah dan pembantu-pembantunya, orang-orang Syiah dan pembela-pembelanya.
Kami memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang terbaik (asma’ husna) dan sifat-sifat-Nya yang mulia untuk menjadikan syariat-Nya berkuasa di muka bumi, menegakkan daulah Islam, meneguhkan pondasi-pondasinya, menjaga para pemimpinnya dan membuat geram musuh-musuh-Nya yaitu musuh-musuh Islam dan membuat marah para thaghut (rezim-rezim boneka) Arab.
Kami memohon kepada Allah untuk menerima jihad dan ribath kami, mewafatkan kami sebagai syuhada’ dalam kondisi maju berperang dan tidak melarikan diri.
Inilah yang bisa saya sampaikan kepada kalian.
Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya serta umatnya yang setia meniti jejak hidupnya.

Yayasan Media Al-I’tisham
Departemen Informasi
Daulah Islam Irak dan Irak 
Jum’at, 7 Dzulqa’dah 1434 H
13 September 2013 M 

(muhibalmajdi/arrahmah.com)   

Sebarkan!

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...

 286  3
 

 309

- See more at: http://www.arrahmah.com/jihad/pesan-jihad-mujahidin-isis-bumi-jihad-suriah-kaum-muslimin.html#sthash.zxEcpdi6.dpuf

Mujahid-mujahid Amerika di kancah Jihad dunia

Senin, 15 Rabiul Akhir 1432 H / 21 Maret 2011 10:31

Mujahid-mujahid Amerika di kancah Jihad dunia
Adam Gadahn (also known as Azzam the American) addressing Muslims in the Palestinian territories and elsewhere over the issue of Palestine in a speech released on jihadist forums on June 13, 2009. The video, produced by as-Sahab, the media arm of al-Qaeda, is titled, “Let’s Continue Our Jihad and Sacrifice.”
Mereka Muslim yang dibesarkan di negara yang berpenduduk mayoritas kafir.  Walau begitu, tidak menyurutkan niat mereka untuk mempelajari dan memahami Islam sebagaimana pemahaman pendahulu mereka, pemahaman para salafuh shalih.  Mereka percaya bahwa jihad merupakan jalan terbaik untuk membela Islam.

Patrick Boyd Daniel
Patrick Boyd Daniel. Ditangkap pada 27 Juli 2009.  Daniel dianggap sebagai pemimpin dari kelompok yang terdiri dari tujuh orang di Carolina Selatan.  Ia dituduh mendukung gerakan jihad di negara-negara lain termasuk Israel, Yordania, Kosovo dan Pakistan.  Menurut dakwaan, Daniel menerima pelatihan “Islam radikal” di Pakistan dan Afghanistan, namun dia tidak dikaitkan dengan Al Qaeda atau kelompok jihad lain yang beroperasi di daerah tersebut.

Adam Gadahn
Adam Gadahn.  Gadahn adalah anggota Al Qaeda asal Amerika yang paling dicari dan merupakan warga negara Amerika Serikat pertama sejak tahun 40-an yang dikenakan tuduhan pengkhianatan.  Dia adalah salah satu dari dua warga AS yang berada dalam daftar FBI dan termasuk 28 “teroris” yang paling dicari dan AS menawarkan 1 Juta USD untuk informasi yang mengarah kepada penangkapannya.  Gadahn dilahirkan di Oregon dan dibesarkan di California, dianggap seorang komandan senior untuk Syaikh Usamah bin Ladin dan dilaporkan memainkan peran sebagai penerjemah, produser video dan penerjemah budaya.  Dalam gambar di atas, Gadahn terlihat dalam sebuah video yang diposting di internet, dalam pesannya ia memuji seorang Angkatan Darat AS yang membunuh 13 orang di basis militer Fort Hood di Texas.

Abdul Rahman Yasin
Abdul Rahman Yasin.  Lahir pada tahun 190 di Bloomington.  Yasin dicari karena diduga berpartisipasi dalam pemboman tahun 1993 di WTC, yang mengakibatkan kematian enam orang.  Dia adalah salah satu dari dua orang warga AS yang masuk dalam daftar FBI, AS menawarkan sampai 5 juta USD untuk informasi mengenai dirinya.  Poster di atas disebar pada tahun 2001.
syaikh anwar-al-awlaki
Syaikh Anwar al-Awlaki
Syaikh Anwar al-Awlaki.  Lahir pada tahun 191 di Las Cruses.  Ulama kharismatik ini kadang disebut sebagai “bin Ladin di internet”. Syaikh al-Awlaki berusaha menjangkau Muslim berbahasa Inggris dalam ceramahnya dan mendorong mereka untuk terlibat dalam jihad di Barat.  Dia telah dikaitkan dengan penembakan di Fort Hood oleh Mayor Nidal Malik Hasan dan percobaan pemboman di pesawat oleh Umar Farouk Abdulmutalib, mujahid asal Nigeria.

Omar Hammami
Omar Hammami. Ia dilahirkan di Alabam, pernah muncul di fitur New York Times, “The Jihadi Next Door”.  Dibesarkan sebagai seorang Kristen.  Putra dari ayah dan ibu Amerika-Suriah ini lambat laun mengenal Islam dan menjadi “Islam fundamentalis” pada tahun 2007 lalu bergabng dengan Al Qaeda Somalia yang mendukung kelompok Al Shabaab.  Dia dikatakan sebagai bintang dan perekrut utama, foto di atas adalah pesan videonya pada 31 Maret 2009 yang dirilis dalam forum jihad.

Najibullah Zazi
Najibullah Zazi.  Ditangkap 16 September 2009.  Meskipun lahir di Afghanistan, Zazi dan keluarganya pindah ke New York pada 1999 dan menjadi penduduk secara hukum.  Dokumen pengadilan menyatakan bahwa di tahun 2008 ia pergi ke Afghanistan untuk bergabung dengan Taliban meskipun ia direkrut oleh Al Qaeda.  Dia kembali ke AS pada bulan Januari 2009, pindah ke Denver dan sebelum akhir tahun dinyatakan bersalah oleh pengadilan AS karena merencanakan meledakkan kereta api bawah tanah New York dengan bom buatan sendiri.  Dalam foto, ia dikawal keluar dari helikopter NYPD.  Ia kemungkinan akan dijatuhi hukuman seumur hidup.

Nidal Malik Hasan
Nidal Malik Hasan.  Ditangkap pada 5 November 2009.  Mayor Nidal, dokter militer AS melakukan penembakan di pos Angkatan Darat AS di Fort Hood, Texas yang menewaskan 13 orang.  Dia dilahirkan di Arlington, namun Hasan tidak pernah terjun ke zona perang.

John Walker Lindh
John Walker Lindh.  Ditangkap 25 November 2001.  Lindh kelahiran Washington DC, ditangkap sebagai pejuang musuh sejak AS menginvasi Afghanistan pada tahun 2001.  Ia menjadi tertarik dengan Islam setelah melihat Spike Lee dalam film Malcolm X.  Lindh sekarang menjalani hukuman penjara 20 tahun.Dalam foto adalah Lindh saat melakukan registrasi di sebuah Madrasah Saudi Hassani Kalan Surani Bannu di Pakistan tahun 2002.

Ilustrasi David Headley
David Headley.  Ditangkap 3 Oktober 2009. kelahiran Washington DC,  dibebankan dengan panduan lokasi untuk serangan “teroris” 2008 di Mumbai yang menewaskan 174 orang. Seperti ‘Jihad Jane’ Colleen LaRose, yang didakwa merencanakan untuk membunuh kartunis Swedia, Headley juga diduga telah merencanakan serangan terhadap koran Denmark yang menerbitkan kartun kontroversial Nabi  Muhammad Saw, pada tahun 2005. Dalam gambar Headley muncul di pengadilan federal di Chicago. Dia telah mengaku tidak bersalah dan menunggu persidangan.

Colleen LaRose, alias Jihad Jane
Colleen LaRose, alias Jihad Jane. Ditangkap 15 Oktober 2009. Wanita kelahiran Michigan didakwa atas tuduhan konspirasi untuk memberikan dukungan material kepada teroris dan membunuh seseorang di negara asing.  Gadis pirang Amerika bermata hijau dari pinggiran kota Philadelphia menyebut dirinya Jihad Jane dan Fatima LaRose. Dia  dituduh berhubungan dengan militan melalui Internet untuk plot aksi terorisme, termasuk rencana untuk membunuh kartunis Swedia.

Faisal Shahzad
Faisal Shahzad.  Dia ditangkap di bandara New York atas tuduhan bahwa ia mengendarai mobil SUV berisi penuh bahan peledak dan meledak di depan Times Square. Shahzad, warga negara Amerika Serikat kelahiran Pakistan ditangkap dan didakwa dengan tuduhan berusaha melakukan serangan, tampaknya memiliki sedikit pelatihan nyata dalam teknik bahan peledak, menurut pejabat AS. Shahzad tinggal di Shelton, dengan keluarganya sampai mereka kehilangan rumah mereka untuk penyitaan tahun lalu dan keluarga nya terbang dari AS ke Karachi pada bulan Juli 2009. Shahzad akan menghadapi tuduhan terorisme dan memiliki senjata pemusnah massal.
Polisi Pakistan mengawal lima pria yang tangannya diborgol dan diidentifikasi sebagai Aman Hassan Yemer, Abdulah Ahmed Minni, Waqar Hussain Khan, Ramy Zamzam, dan Umar Farooq. Semuanya warga Amerika dari Virginia utara.  Mereka bermaksud bergabung dalam jihad di Afghanistan untuk membela kaum Muslim yang dijajah di sana, namun niat mereka belum tercapai, mereka telah ditangkap di perbatasan oleh polisi boneka Pakistan.  Kini mereka masih berada di penjara thagut Pakistan dan menjalani persidangan.
(dbs/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2011/03/21/11486-mujahid-mujahid-amerika-di-kancah-jihad-dunia.html#sthash.HzSpl0JM.dpuf
Pesan jihad mujahidin ISIS dari bumi jihad Suriah untuk kaum muslimin
Ilustrasi
HAMAH (Arrahmah.com) – Perang pembebasan gudang-gudang senjata Brigade 66 merupakan sebuah operasi militer skala besar yang digelar oleh mujahidin Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS) di pinggiran Hamah Timur. Mujahidin ISIS selama lebih dari satu bulan melakukan pengintaian, pengumpulan informasi, perencanaan, dan persiapan sebelum operasi serangan.
Operasi serangan tersebut melibatkan ratusan mujahidin Daulah Islam Irak dan Syam dan menargetkan markas Brigade Pertahanan Udara, gudang-gudang senjata Batalion 66, puluhan posko militer, desa dan titik pasukan keamanan yang tersebar luas di pinggiran Hamah Timur. Operasi serangan dengan izin Allah sukses meraih target-target yang dicanangkan oleh mujahidin ISIS.
Yayasan Media Al-I’tisham, sayap media Departemen Informasi Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS) telah merilis video khusus berkaitan dengan kesuksesan merebut gudang senjata Brigade 66 di Hamah Timur. Video itu berisi pesan jihad dari Hamah Timur. Menenteng sebuah senapan Klashnikov dan duduk jongkok di atas sebuah tank, komandan mujahidin ISIS menyampaikan pesan-pesannya jihadnya kepada kaum muslimin. Berikut ini terjemahan pesan jihad sang komandan.
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarganya dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du.
Kepada saudara-saudaraku fillah (seagama)….
Kepada orang-orang yang tidak ikut bergabung dalam kafilah…
Kepada orang-orang yang Allah Ta’ala berfirman mengenai diri mereka:
رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ
Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang dan hati mereka telah tertutup sehingga mereka tidak memahami (kebahagiaan beriman dan berjihad).” (QS. At-Taubah [9]: 87)
Saya katakan kepada mereka dengan meminta pertolongan kepada Allah semata.. saya katakan kepada mereka sementara dalam hati saya ada perasaan menyayangkan atas apa yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin, yaitu darah yang ditumpahkan, kehormatan yang dinodai, wanita-wanita yang diperkosa…apa yang akan kalian katakan kelak di hadapan Allah Ta’ala jika kalian ditanya, sementara Allah telah berfirman:
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا
Berangkatlah kalian berperang dalam kondisi kalian merasa ringan maupun berat…” (QS. At-Taubah [9]: 41)
Dan Allah telah berfirman:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا
Maka mengapa kalian tidak berperang di jalan Allah (untuk membela) orang-orang yang ditindas dari kalangan laki-laki, wanita dan anak-anak yang berdoa ‘wahai Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya zalim ini, jadikanlah untuk kami dari sisi-Mu seorang pembela dan jadikanlah untuk kami dari sisi-Mu seorang penolong.” (QS. An-Nisa’ [4]: 75)
Dan Allah telah berfirman:
إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Jika kalian tidak mau berperang (di jalan Allah) niscaya Allah akan mengazab kalian dengan azab yang pedih, mengganti kalian dengan kaum lain (yang beriman dan berjihad di jalan-Nya) dan kalian tidak bisa mendatangkan bahaya apapun kepada Allah. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Taubah [9]: 39)
Apa yang akan kalian katakan kelak di hadapan Allah, sementara Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah bersabda:
«مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ، وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِالْغَزْوِ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ»
Barangsiapa tidak berperang (di jalan Allah) dan meniatkan di dalam dirinya untuk berperang (di jalan Allah) niscaya ia akan mati di atas salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim no. 1910, Abu Daud no. 2502 dan An-Nasai no. 3097)
Beliau bersabda demikian pada saat jihad hukumnya fardhu kifayah. Maka bagaimana lagi pendapatmu sementara saat ini jihad hukumnya fardhu ‘ain atas setiap muslim yang mampu dengan jiwa dan hartanya sampai berhasil dikembalikan jengkal bumi terakhir yang pada suatu hari dahulu pernah diperintah dengan hukum Islam.
Apa yang akan kalian katakan sementara Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah al-Harrani) telah menyatakan bahwa tiada kewajiban yang lebih wajib setelah beriman melebihi kewajiban menolak musuh yang menyerang agama dan dunia kaum muslimin.
Takutlah kalian kepada Allah, sebab pada pundak kalian ada tanggung jawab yang besar. Umat Islam memerlukan kalian, demi Allah, kami melihat bumi Syam begitu membutuhkan kedatangan mujahidin sehingga akan membuat kening kita berkerut karena rasa malu.
Saya katakan kepada para penuntut ilmu (kaum santri dan mahasiswa)…
Saya katakan kepada orang-orang yang menghiasi dirinya dengan ilmu namun mereka tidak mengamalkan ilmu tersebut…saya katakan, bertakwalah kalian kepada Allah, bersegeralah…bersegeralah. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ
Seandainya mereka benar-benar ingin berangkat berperang (di jalan Allah) tentulah mereka akan mempersiapkan perbekalannya, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka (orang-orang munafik)…” (QS. At-Taubah [9]: 46)
Demi Allah Yang tiada Ilah selain Dia…setiap pagi dan sore kita membaca doa “Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan kita, setelah sebelumnya mematikan kita, dan hanya kepada-Nya kita akan dikumpulkan.”
Demi Allah, di sini, di bumi jihad, kita menemukan kehidupan setelah sebelumnya kita mati. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah panggilan Allah dan Rasul-Nya jika mereka memanggil kalian untuk melaksanakan perkara yang mendatangkan kehidupan bagi kalian! Dan ketahuilah bahwasanya Allah menghalangi antara seseorang dengan hatinya dan bahwasanya hanya kepada-Nya saja kalian akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal [8]: 24)
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa perkara yang mendatangkan kehidupan bagi umat Islam (dalam ayat ini) adalah jihad. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:
«إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ»
Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‘ienah (ribawi), mengekor di belakang sapi (puas dengan peternakan), puas dengan pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan Allah cabut dari kalian sampai kalian kembali kepada (melaksanakan) agama kalian.” (HR. Abu Daud no. 3462 dan Ahmad no. 4825)
Maka bersegeralah…maka bersegeralah…!
Saudara-saudaraku… demi Allah Yang tiada Ilah selain-Nya, sesungguhnya kami menemukan bau wangi surga dengan jihad.  
Demi Allah Yang tiada Ilah selain-Nya, sesungguhnya kami menganggap remeh amal-amal kami, shalat malam kami, puasa sunnah kami, di hadapan amal perbuatan para ksatria (mujahidin) saat kami melihat realita…saat kami melihat darah (nyawa) dan tulang belulang yang telah dipersembahkan saudara-saudara kami untuk membela agama Islam.
Bergabunglah dengan kafilah, sebelum kesempatan itu berlalu.
Inilah yang bisa saya sampaikan kepada kalian dalam kesempatan waktu yang sempit ini. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya semata kita akan kembali.
Kami memohon kepada Allah Rabb ‘arsy yang agung, dengan nama-nama-Nya yang terbaik (asma’ husna) dan sifat-sifat-Nya yang mulia untuk memperbaiki kondisi kaum muslimin.
Kita memohon kepada Allah untuk menganugrahkan kemenangan kepada Daulah Islam dan menganugrahkan kemenangan kepada saudara-saudara kita mujahidin, menganugrahkan kepada kita tengkuk-tengkuk orang-orang Nushairiyah dan pihak-pihak yang membantunya.  
Kita memohon kepada Allah untuk menghukum orang-orang Yahudi dan pendukung-pendukungnya, orang-orang Nushairiyah dan pembantu-pembantunya, orang-orang Syiah dan pembela-pembelanya.
Kami memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang terbaik (asma’ husna) dan sifat-sifat-Nya yang mulia untuk menjadikan syariat-Nya berkuasa di muka bumi, menegakkan daulah Islam, meneguhkan pondasi-pondasinya, menjaga para pemimpinnya dan membuat geram musuh-musuh-Nya yaitu musuh-musuh Islam dan membuat marah para thaghut (rezim-rezim boneka) Arab.
Kami memohon kepada Allah untuk menerima jihad dan ribath kami, mewafatkan kami sebagai syuhada’ dalam kondisi maju berperang dan tidak melarikan diri.
Inilah yang bisa saya sampaikan kepada kalian.
Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya serta umatnya yang setia meniti jejak hidupnya.

Yayasan Media Al-I’tisham
Departemen Informasi
Daulah Islam Irak dan Irak 
Jum’at, 7 Dzulqa’dah 1434 H
13 September 2013 M 

(muhibalmajdi/arrahmah.com)   

Sebarkan!

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...
 286  3
 
 309
- See more at: http://www.arrahmah.com/jihad/pesan-jihad-mujahidin-isis-bumi-jihad-suriah-kaum-muslimin.html#sthash.zxEcpdi6.dpuf

Para tokoh Jalut korban demokrasi

Senin, 11 Zulqa'dah 1434 H / 16 September 2013 11:44
Para tokoh Jalut korban demokrasi
Ilustrasi
Oleh: Ustadz Irfan S. Awwas
Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin
(Arrahmah.com) - Islam telah menyumbang banyak pada Indonesia, tapi diperlakukan secara tidak adil dan diskrimintaif. Inventarisasi jasa Islam dilakukan seorang pakar sejarah, Dr. Kuntowijoyo, dalam bukunya ‘Identitas Politik Umat Islam’.
Jasa Islam bagi keberkahan negeri ini antara lain: Pertama, Islam membentuk civic culture (budaya bernegara). Kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri di seluruh Indonesia sejak abad ke-13 pasti dipengaruhi oleh tata Negara Islam, bukan oleh Hinduisme. Buku tata Negara, seperti Tajus Salatin mempunyai pengaruh yang luas.
Kedua, Solidaritas nasional, terjalin karena pengIslaman Nusantara menjadikan seluruh Indonesia sebuah kesatuan. Jaringan itu terbentuk terutama sesudah ada diaspora Islam setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511. Persamaan agama, budaya, suku Melayu menjadikan jaringan agama sebagai proto-nasionalisme.
Ketiga, syari’at jihad menjadi motivator satu-satunya untuk meraih kemerdekaan, bebas dari belenggu penjajahan kafir Belanda. Pada tahun 1873-1903 terjadi Perang Aceh menetang penjajah Belanda. Pada tahun-tahun 1945-1949 ideologi jihad lah yang mendorong pembentukan laskar Hizbullah-Sabilillah sebagai tentara resmi melawan penjajah. Perlawanan pada komunisme, 1965-1966 adalah berkat ideologi jihad.
Keempat, kontrol sosial di NKRI, tidak hanya dijalankan oleh polisi, hukum, perundangan, dan peraturan, tapi terutama oleh agama Islam. Bayangkan, jika tidak ada Islam yang melarang pembunuhan, pencurian, dan perampokan, pastilah orang-orang kaya perlu punya banyak Satpam. Bila tidak Islam yang mengharamkan pelacuran, miras, perjudian, narkoba, tentulah orang tua tidak akan bisa tidur nyenyak membiarkan anak gadisnya tanpa penjagaan. Jika tidak ada Islam yang melarang tradisi kawin inses (sesama saudara kandung), mengharamkan lesbianisme, korupsi, seperti apa Indonesia hari ini?
Sayang sekali, jasa Islam ini sering dilupakan kalau bukan dikhianati orang. Bangsa Indonesia belum pernah secara obyektif mengakui dan kemudian mengoreksi kesalahannya. Ada banyak alasan kondisional, dimana seseorang atau suatu bangsa terjerumus pada kesesatan tanpa menyadari bahwa mereka tersesat jalan. Mereka rela berkorban apa saja, demi bangsa, demi persatuan, demi hak asasi manusia, tanpa memahami bahwa itu semua adalah sia-sia.

Korban Demokrasi

Mengapa ada di antara umat Islam yang menolak syari’at Islam, dan sebaliknya menerima demokrasi sebagai sistem kehidupan berbangsa dan bernegara? Inilah komunitas korban demokrasi, mereka salah faham terhadap Islam, sehingga akibatnya melahirkan paham yang salah di kalangan kaum Muslim. Masih terdapat politisi Muslim yang beranggapan Islam tidak punya konsep ketatanegaraan, tidak memiliki konsep suksesi kepemimpinan dan lain sebagainya, sehingga harus mengadopsi demokrasi.
Ibarat blangkon (topi budaya Jawa), milik bangsa Indonesia, dipakai orang Belanda dengan modifikasi sesuai budaya dan keinginan mereka. Lalu di bawa ke Indonesia dan dikatakan sebagai budaya orang Belanda. Kita pun menyebutnya milik Belanda, padahal milik bangsa Indonesia. Begitulah, umat Islam tertipu dan selalu menjadi korban penipuan.
Sebagian dari ciri-ciri pemimpin dan masyarakat yang tertipu dan menjadi korban demokrasi dapat disebutkan antara lain: Pertama, menolak formalisasi Syari’at Islam:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ (6)
“Di antara manusia ada yang membuat cerita fiktif untuk menyesatkan manusia dari Islam. Orang itu menjadikan Islam sebagai bahan ejekan. Mereka yang melakukan perbuatan semacam itu mendapatkan adzab yang hina di akhirat.” (Qs. Luqman, 31: 6)
Menyikapi syari’ah Islam, terdapat tiga kategori manusia. Ada di antara umat Islam yang komitmen dan konsisten mengamalkan ajaran Islam. Tapi tidak sedikit orang yang hanya mengaku beragama Islam tapi menganut ideologi yang bertentangan dengan ajaran Islam. Kemudian, ada juga manusia yang ahli agama Islam tapi membelokkan kebenaran Islam demi kepentingan duniawi. Mereka ini saling memanfaatkan untuk interes masing-masing. Penguasa berkepentingan memperalat tokoh agama, dijadikan alat pembenaran terhadap kezalimannya; sementara tokoh-tokoh agama berlindung di balik kekuasaan untuk meraih popularitas serta kepentingan dunia.
Akibatnya, musuh Islam tidak lagi memperhitungkan eksistensi mereka. Mereka telah terbuai dengan kemewahan dan kesenangan dunia, sehingga takut menghadapi musuh-musuh Islam karena khawatir akan kehilangan harta benda, kedudukan, atau kenikmatan yang telah diperoleh.
Musuh-musuh Islam merajalela melakukan berbagai kemungkaran di negeri-negeri Islam, seperti membebaskan adanya minuman keras, pelacuran, dan berbagai kemaksiatan lainnya yang merusak akhlak masyarakat. Mengimpor budaya mungkarat seperti Miss World dll. Kenyataan ini secara perlahan-lahan menghancurkan kekuatan kaum Muslim di negerinya sendiri.
Indikasi korban demokrasi yang kedua, adalah talbisul iblis, yaitu mensinergikan antara yang haq dan bathil. Oplos kebenaran dan kebathilan merupakan program syetan. Oleh karena itu Islam dengan tegas menolak sinergitas kontroversial ini.
Pertarungan antara yang haq dan bathil merupakan sunatullah. Sedangkan upaya mensinergikan antara keduanya, adalah program syetan. Oleh karena itu Islam dengan tegas menolak oplos kebenaran dan kebathilan sebagaimana firman-Nya:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (42)
“Wahai Bani Israil, janganlah kalian mengubah kebenaran kenabian Muhammad dalam Taurat dan Injil dengan cara memasukkan perkataan dusta ke dalam kitab-kitab Allah itu. Janganlah kalian menyembunyikan kebenaran kenabian Muhammad, padahal kalian mengetahui dosa atas pemalsuan itu.” (Qs. Al-Baqarah, 2: 42)
Sebagai Muslim, memang benar mereka menganut Islam sebagai agamanya, tetapi pada saat yang sama mereka juga menganut ideologi kaum yang dimurkai Allah seperti demokrasi, sekularisme, nasionalisme, komunisme, dan yang semacamnya. Sehingga atas nama ideologi mereka menggunakan lisan, tulisan, dan perbuatan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.
Proses syetanisasi di negeri ini, tidak hanya dimonopoli orang kafir, tetapi berlangsung secara legal, formal, dan konstitusional. Seperti dikatakan sekte JIL (Jaringan Islam Liberal), “Kita menerima ideologi demokrasi, karena demokrasi mensinergikan antara yang baik dan buruk, halal dan haram.” Kelompok anti syari’ah Islam meyakini bahwa demokrasi lebih tepat bagi bangsa Indonesia, karena bisa mensinergikan antara halal dan haram sesuai kebutuhan. Akibatnya muncul sikap ambivalen dan munafik.
Ketiga, merusak tapi merasa memperbaiki. Adanya teknokrat, tokoh agama yang melakukan kerusakan tapi mengklaim diri melakukan perbaikan demi pembangunan.
Firman Allah:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12)
“Apabila orang mukmin berkata kepada orang-orang munafik: “Janganlah kalian menyesatkan manusia di muka bumi dengan cara menimbulkan keraguan kepada Islam,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami justru mengajak manusia berbuat kebaikan.” Wahai Muhammad, ketahuilah bahwa orang-orang munafik itu sebenarnya adalah orang-orang yang melakukan perbuatan menyesatkan manusia di muka bumi, tetapi mereka tidak menyadari.” (Qs. Al Baqarah, 2: 11-12)
Apabila manusia melakukan kesesatan ideologi, umumnya mereka merasa benar, karena itu tidak bersedia mengoreksi kesesatan atau kesalahannya. Bahkan kesalahan dan kesesatannya dipaksakan untuk jadi jalan hidup serta nilai-nilai kehidupan. Terdapat banyak kondisi dan situasi dimana seseorang menyimpang dari kebenaran, tanpa mengetahui bahwa dirinya sedang tersesat jalan. Al-Qur’an menginformasikan betapa canggihnya para penyesat, sehingga mereka yang disesatkan tidak menyadarinya.
Misalnya, untuk mengantisipasi anak pinak pelacur, dibangunlah lokalisasi pelacuran, termasuk lokalisasi judi. Supaya para gadis tidak hamil akibat seks bebas, seorang menteri menganjurkan penggunaan kondom. Mereka mengatasi kemungkaran dengan cara mungkar.
Keempat, menyerahkan kepemimpinan pada tokoh yang menyeru ke neraka. Di dalam Al-Qur’an disebutkan, model kepemimpinan di dunia ini ada dua, yaitu pemimpin yang mengajak kepada Nuur dan pemimpin yang mengajak kepada Naar.
Pemimpin yang mengajak pada Nuur (cahaya/petunjuk), disebutkan dalam Qs. Al-Anbiyaa, 21: 73:
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (73)
“Kami jadikan masing-masing mereka sebagai pemimpin yang memberikan petunjuk kepada manusia dengan izin Kami. Kami perintahkan kepada mereka untuk melakukan amal-amal shalih, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Mereka semua senantiasa taat kepada Allah.”
Adapun pemimpin yang mengajak pada Naar (api/kesesatan), dinyatakan oleh Allah sebagai sumber malapetaka:
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنْصَرُونَ (41) وَأَتْبَعْنَاهُمْ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ هُمْ مِنَ الْمَقْبُوحِينَ (42)
“Kami telah menjadikan Fir’aun dan para pembesarnya sebagai para pemimpin yang mengajak manusia ke neraka. Pada hari kiamat kelak, mereka tidak akan mendapatkan penolong dari siksa neraka. Kami timpakan laknat kepada Fir’aun dan para pembesarnya di dunia ini. Pada hari kiamat kelak, mereka termasuk orang-orang yang diadzab di neraka.” (Qs. Al-Qashash, 28: 41-42)
Bermunculan pimpinan parpol, berburu nasib jadi capres-cawapres 2014. Mereka berlomba perbaiki citra, berebut popularitas, justru dengan merusak masyarakat. Bukan saja menjadi importir ideologi bathil, tapi juga budaya mungkar, ekonomi kapitalis, seni maksiat, yang akan menjauhkan masyarakat dari rahmat Ilahy.
Fenomena para tokoh Jalut, penguasa zalim yang mengaku menegakkan keadilan, kini bermunculan di pentas politik nasional. Jalut, disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 247, sebagai pemimpin zalim, memeras rakyat dan kepentingan negara untuk kepentingan diri dan kelompoknya, di zaman nabi Dawud ‘alaihissalam. Lawan politiknya adalah Thalut, seorang pemimpin sederhana, tetapi memiliki kapabilitas intelektual dan kekuatan fisik, yang didukung oleh nabi Dawud sekalipun ditolak oleh ulama bani Israil.
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (247)
Nabi Bani Israil berkata kepada mereka: “Allah telah mengutus Thalut kepada kalian untuk menjadi raja kalian.” Bani Israil berkata: “Bagaimana Thalut dapat menjadi raja bagi kami, padahal kami lebih berhak atas jabatan raja itu daripada dia, karena Thalut tidak mempunyai kekayaan apa-apa.” Nabi Bani Israil berkata: “Sungguh Allah telah memilih Thalut untuk menjadi raja bagi kalian. Allah memberinya keluasan ilmu dan kekuatan tubuh. Allah memberikan kekuasaan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah Mahaluas rahmat-Nya lagi Maha Mengetahui kelemahan kalian.”
Di zaman sekarang, mekanisme demokrasi memberi peluang munculnya pemimpin dengan karakter Thalut, pemimpin yang adil, mengajak rakyatnya menuju surga. Indonesia Negara berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esamasyarakat Muslim mayoritas, kesempatan terbuka. Pertanyaannya, adakah tokoh “Thalut” dari parpol Islam, ormas Islam, atau kalangan independen yang memiliki kualitas basthatan fil ilmi wal jismi? Kapasitas intelektual dan tubuh yang perkasa, ahli syari’ah Islam, pengetahuan ketata negaraan mumpuni, mentalitas pemberani, akhlak terpuji, berwibawa dan berpengaruh di bidang sosial kemasyarakatan.
Selama Jalutisme ini memegang kendali kekuasaan, maka tidak akan ada perbaikan negara. Indonesia membutuhkan kepemimpinan berkarakter Thalut: kuat, cerdas, pemberani dan bermoral. Basthatan fil ilmi wal jismi! Tipe pemimpin seperti inilah yang dapat diharapkan mampu menjalankan prinsip tasharruf al-imam ‘ala al-ra’iyyah manutun bi al-mashlahah (kebijakannya berorientasi untuk kemaslahatan umat), dan menegakkan keadilan berlandaskan syari’at Allah subhanahu wa ta’ala.
Wallahu a’lam bish shawab! 
 (Ukasyah/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/rubrik/tokoh-jalut-korban-demokrasi.html#sthash.5RAlb7B9.dpuf

Minggu, 15 September 2013

Runtuhnya Mataram, Hilangnya Impian akan Kesatuan Jawa

Jawa memang kaya dengan budayanya. Budaya Jawa juga cukup signifikan pengaruhnya terhadap budaya Indonesia. Hal ini bukan omong kosong. Banyak contohnya, sebut saja gaya berbusana. Pemakaian kain wiron, konde rambut gaya Solo, dan kebaya Jawa, adalah beberapa contoh unsur busana gaya Jawa yang bisa dibilang sudah diterima di seluruh Indonesia. Jadi kalau anda datang ke sebuah resepsi pernikahan, anda akan melihat begitu banyak wanita bergaya seperti ini. Begitu juga dengan kaum prianya, banyak dari mereka yang memakai batik. Kini, kebaya dan batik bukan lagi milik orang Jawa, tapi sudah menjadi milik semua orang yang mengaku bangsa Indonesia.
Lalu, dimanakah pusat budaya Jawa yang sesungguhnya? Umumnya orang Jawa akan berkata, Yogya dan Solo-lah pusat budaya Jawa. Yogya dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat-nya, dan Solo dengan Surakarta Hadiningrat-nya. Kedua keraton ini memang sangat merepresentasikan budaya Jawa dengan feodalismenya yang sangat kental.
Kalau anda memasuki Keraton Yogyakarta dan Surakarta, maka anda akan menemukan banyak sekali kesamaan di antara keduanya. Tata ruang, arsitektur, dan maknanya. Begitu pula dengan adat istiadat dan tata kramanya. Mengapa begitu? Karena dulu mereka memang berasal dari kerajaan yang sama, Kerajaan Mataram Islam.
Kerajaan Mataram Islam
Kerajaan Mataram Islam muncul di abad ke-15. Rajanya yang pertama adalah Panembahan Senopati, yang memerintah dari tahun 1584-1601. Panembahan berasal dari kata “sembah” yang berarti salam hormat, dilakukan dengan cara melekatkan kedua telapak tangan, dengan ujung jari ke atas, dan menyentuh ujung hidung. Inilah cara orang Jawa menghormati orang yang dituakan, atau pemimpin mereka, khususnya keluarga kerajaan. Dengan begitu Panembahan adalah orang yang sangat dihormati, disanjung, bahkan dipuja.
Mataram mencapai puncak kejayaannya ketika diperintah oleh rajanya yang ke-3, Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645). Dibawah pemerintahannya, Mataram mendominasi seluruh Jawa, kecuali Banten dan Batavia. Bukan sekedar raja, Sultan Agung juga merupakan seorang pejuang hebat di Jawa, yang dengan gigih melawan kolonialisme Belanda.
Setelah Sultan Agung, raja Mataram berikutnya adalah Sunan Amangkurat I (1645-1677). Pada masa pemerintahannya, masa kejayaan Mataram pun lambat laun mulai pudar. Raja-raja berikutnya juga tidak mampu membawa Mataram kembali ke masa jayanya. Daerah-daerah yang selama ini berada di bawah kekuasaan Mataram, satu per satu berusaha memisahkan diri.
Akhirnya, setelah dikacau berbagai pemberontakan, seperti Pangeran Trunojoyo dari Madura yang mendirikan keratonnya di Kediri (1677-1680) dan Untung Surapati yang kemudian berkeraton di Pasuruan (1686-1703), Mataram pun terjerumus dalam 3 perang suksesi, yang berakhir dengan Perjanjian Giyanti (1755) dan Perjanjian Salatiga (1757).
 Perjanjian Giyanti dan Perjanjian Salatiga
Semasa Mataram dipimpin oleh rajanya yang ke-10, Sri Susuhunan Paku Buwono II (1727-1749), dan berkedudukan di Kartasuro, pada tahun 1742 terjadi pemberontakan oleh orang-orang Tionghoa, yang kemudian dikenal dengan sebutan “Geger Patjina”. Pemberontakan ini dipimpin oleh Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyowo, menantu Pangeran Mangkubumi. Pada saat pemberontakan terjadi, Paku Buwono II menyelematkan diri ke Ponorogo bersama penasehatnya Van Hohendorf dan Wakil Gubernur Jenderal Van Imhoff. Dengan bantuan VOC pemberontakan pun berhasil ditumpas, dan Raden Mas Said diasingkan ke Ceylon.
Setelah kekacauan mereda, PB II meminta bantuan VOC merebut kembali ibukota Mataram di Kartasura. Maka dibuatlah Perjanjian Ponorogo (1743), kontrak politik antara PB II dengan VOC. Ketika menandatangani perjanjian ini, PB II tidak berkonsultasi dengan para pembesar keraton, termasuk Pangeran Mangkubumi.
Hal inilah yang kemudian memicu perselisihan di kalangan keluarga keraton, terutama antara PB II dengan Pangeran Mangkubumi. Sementara itu, PB II juga menempuh langkah besar dengan memindahkan ibu kota kerajaan dari Kartasura yang porak poranda akibat geger Patjina, ke Surakarta (1745).
Perselisihan di dalam keraton terus berkepanjangan, sampai PB II digantikan oleh Sri Susuhunan Paku Buwono III. Untuk mendamaikannya, atas usulan VOC dibuatlah Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755). Dengan perjanjian ini, Kerajaan Mataram dibagi dua. Sebagian kerajaan dikuasai Sri Susuhunan Paku Buwono III, dengan Keraton Surakarta Hadiningrat-nya, dan sebagian lagi dikuasai Pangeran Mangkubumi, yang selanjutnya menjadi sultan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan sebutan Sultan Hamengkubuwono I.
Di tahun 1757, lewat Perjanjian Salatiga, Sunan PB III pun menyerahkan wilayah Karanganyar dan Wonogiri kepada sepupunya, Raden Mas Said, yang memimpin pemberontakan Geger Patjina ketika Mataram diperintah oleh PB II. Raden Mas Said kemudian menyatakan diri sebagai Mangkunegoro I, dan memimpin Puro Mangkunegaran sampai 1795.
Berdirinya Puro Pakualaman
Agaknya, intrik, konflik dan pemberontakan merupakan suatu hal yang biasa terjadi di dalam keraton atau kerajaan pada masa lalu. Apa yang terjadi di Kerajaan Mataram yang akhirnya membawa Mataram pada kehancuran, terjadi pula di Keraton Yogyakarta. Masa kepemimpinan Sultan HB I ditandai dengan adanya pergolakan karena konflik antara anak-anak dan cucu-cucunya dalam memperebutkan kekuasaan.
Setelah Sultan HB I mangkat (1792), ia pun digantikan oleh anaknya Sultan HB II. Konflik yang terjadi di dalam keluarga keraton tak kunjung selesai, bahkan akhirnya meluap menjadi pertempuran yang melibatkan kekuatan koloni Belanda dan Inggris. Untuk mengimbangi kekuatan Sultan HB II, pada tahun 1813 Inggris lewat Gubernur Letnan Jenderal-nya, Sir Thomas Raffles, menganugerahi gelar kepada salah seorang saudara HB II, Pangeran Notokusumo, anak HB I dengan Ratu Srenggorowati, sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A.) Paku Alam I. Paku Alam I pun diberi daerah otonomi yang terdiri dari 4.000 cacah di Pajang, Bagelan, sebelah barat Yogyakarta, dan sebuah daerah yang terletak di antara Sungai Progo dan Bogowonto, di daerah Adikarto, sebelah barat Yogyakarta. Istana milik Kadipaten Pakualaman kita kenal dengan sebutan Puro Pakualaman.
Hilangnya Impian akan Pembentukan Kesatuan Jawa
“Perjanjian tahun 1755 dan 1757 jelas merupakan peristiwa penting dalam sejarah Mataram. Hilanglah impian akan pembentukan kesatuan Jawa yang diusahakan oleh raja-raja pertama. Seluruh Jawa Barat, seperti juga pesisir utara dan ujung timur Pulau Jawa dikuasai Kompeni. Sisanya terpecah-pecah bagaikan kain tambal seribu dan terbagi di antara tiga kerajaan, yang sekalipun tenteram dan damai, diam-diam tetap bersaing”, tulis Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya (Le Carrefour Javanais).
Ya, apa yang telah dilakukan oleh raja-raja pertama relatif menjadi tidak berarti lagi setelah dibuatnya perjanjian Giyanti dan Salatiga. Padahal, politik luar negeri yang dilakukan dengan cara ekspansi telah berhasil membawa Mataram menjadi sebuah kerajaan besar, yang mencapai puncak kejayaannya di masa pemerintahan Sultan Agung. Namun sekali lagi, Perjanjian Giyanti dan Salatiga telah mengakibatkan Mataram runtuh, sehingga punahlah impian para raja pertama akan pembentukan kesatuan Jawa. Ditambah pula dengan pecahnya Keraton Yogyakarta, maka agaknya kesatuan Jawa seperti yang diimpikan oleh para raja pertama, hanyalah sekedar impian yang tidak pernah terwujud. Ironis bukan?
Sumber:
1. “Aneka Solo yang Surakarta”, Kompas, 8 Februari 1996
2. Drs. Marbangun Hardjowirogo, Manusia Jawa, Jakarta: Yayasan Idayu, 1983, hal. 9
3. P. Swantoro, “Jawa yang Jaya, Jawa yang Menderita”, Kompas
4. “Sejarah Lahirnya Yogyakarta: Lahir dari Keengganan Berkolusi dengan VOC”, www.yogya.indo.net
5. Suryo S. Negoro, “The Mataram Kingdom & Royal Places”, www.joglosemar.co.id

Pencarian artikel ini:

Sabtu, 14 September 2013

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Sadisnya Yahudi dan musyrikin serta kafirin dan munafiqin terhadap kaum Muslimin bukan hanya terjadi sekarang, dan bukan hanya menimpa di luar negeri, namun terjadi dari dulu hingga entah kapan nanti, dan juga termasuk di dalam negeri. Sehingga Allah melarang Ummat Islam mengangkat manusia-manusia kafir menjadi pemimpin atau orang kepercayaan.
Allah Ta’ala berfirman:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ  [آل عمران : 28]

28. janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali[192] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu).(Ali Imran: 28).
[192] Wali jamaknya auliyaa: berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, Penjajah Belanda yang beragama Kristen, dan mereka itu adalah minoritas di Nusantara, terbukti telah bercokol mencengkeramkan kuku-kukunya di Nusantara selama 350-an tahun dengan aneka pelanggaran dan pemerkosaan hak-hak sipil. Berapa ribu ulama yang telah dibantai dengan cara diadu domba. Contohnya, di zaman Amangkurat I, pengganti Sultan Agung di Kerajaan Mataram Islam, di Jogjakarta, Amangkurat I mengadakan perjanjian dengan Belanda, lalu para ulama tidak setuju, maka dikumpulkanlah para ulama itu di alun-alun (lapangan) sejumlah 5.000-an ulama, lalu dibantai. Sejarahnya sebagai berikut:
Amangkurat I membantai ribuan ulama
Pembantaian terhadap umat Islam kadang bukan hanya menimpa umat secara umum, namun justru inti umat yang dibantai, yaitu para ulama. Pembantaian yang diarahkan kepada ulama itu di antaranya oleh Amangkurat I, penerus Sultan Agung, raja Mataram Islam di Jawa, tahun 1646.
Peristiwa itu bisa kita simak sebagai berikut:
‘Penyebaran Islam menjadi benar-benar terhambat dan sekaligus merupakan sejarah paling hitam tatkala Amangkurat I mengumpulkan 5000 sampai 6000 orang ulama seluruh Jawa dan membunuhnya seluruhnya secara serentak.’ (Sjamsudduha, Penyebaran dan Perkembangan Islam- Katolik- Protestan di Indonesia, Usaha Nasional,Surabaya, 1987, halaman 119).
Masalah ini ditegaskan lagi oleh Sjamsudduha pada halaman lain: ‘Penyebaran Islam pernah mengalami hambatan yang bersifat politis, yaitu adanya pergolakan intern dalam kerajaan-kerajaan Islam. Hambatan yang paling hebat dalam proses penyebaran Islam terjadi ketika Amangkurat I melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap lima sampai enam ribu ulama dan keluarganya. Penyebaran Islam di Jawa mengalami stagnasi untuk beberapa lama karena kehabisan muballigh, dan perasaan takut.’(Sjamsudduha, Penyebaran dan Perkembangan Islam- Katolik- Protestan di Indonesia, Usaha Nasional,Surabaya, 1987, halaman 167).
Dibantainya lima ribu sampai enam ribu ulama itu adalah masalah yang sangat besar. Sumber yang lain menyebutkan:
‘Amangkurat I, juga terkenal dengan nama Amangkurat Tegal Arum atau Tegal Wangi (karena mangkat di tempat tersebut) ialah putera Sultan Agung; naik tahta Mataram (1645) sebagai pengganti ayahnya. Berlainan dengan Sultan Agung yang bijaksana, Amangkurat I pada waktu hidupnya membuat beberapa kesalahan dan sebagai tanda kelemahan ia mengadakan perjanjian perdamaian dengan Kompeni Belanda  (1646). Tindakannnya ini ditentang oleh beberapa golongan, di antaranya para alim ulama, sehingga mereka ini disuruh bunuh.’(Prof. Mr, AG. Pringgodigdo –Hassan Shadily MA, Ensiklopedi Umum, Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1977, halaman 45).
Peristiwa besar berupa pembantaian terhadap ribuan ulama  itu tidak terjadi kecuali di belakangnya ada penjajah Belanda yang menyetir Amangkurat I.
Penjajah Belanda itu jumlahnya sedikit, minoritas, tetapi memegang kendali kepemimpinan, terbukti memainkan peran jahatnya terhadap inti umat Islam yaitu membantai ribuan ulama. Kelompok minoritas itu sampai membantai yang mayoritas saja tidak takut, apalagi kejahatan-kejahatan lainnya.
Dari peristiwa-peristiwa itu tampak jelas, bila kafirin musyrikin diangkat jadi pemimpin, maka walaupun minoritas, terbukti mereka membantai Muslimin. Itu seperti yang terjadi di Suriah, minoritas Syi’ah Nushairiyah membantai Muslimin Suriah, sebagaimana di Indonesia minoritas Syi’ah di Puger Jember Jawa Timur berani membacok Muslim. Dan juga minoritas Kristen penjajah Belanda membantai Muslimin Nusantara dan menyengsarakan, dengan memakai tangan-tangan orang yang mengaku Muslim namun menjual agamanya. Sedang ketika musyrikin kafirin ataupun yahudi itu mayoritas, maka membantai muslimin tidak tanggung-tanggung sebagaimana Muslimin Rohingya dibantai oleh orang Budha dan Muslimin palestina dibantai Yahudi bani Israel.
Oleh karena itu sama sekali orang Muslim tidak boleh berkasih-kasihan dengan kafirin apalagi mengangkatnya sebagai pemimpin. Penegasan Allah Ta’ala cukup jelas pula:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ ( [آل عمران : 118]

118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya(QS Ali ‘Imran/3: 118).

تفسير السعدي – (1 / 144)

ينهى تعالى عباده المؤمنين أن يتخذوا بطانة من المنافقين من أهل الكتاب وغيرهم يظهرونهم على سرائرهم أو يولونهم بعض الأعمال الإسلامية وذلك أنهم هم الأعداء الذين امتلأت قلوبهم من العداوة والبغضاء فظهرت على أفواههم { وما تخفي صدورهم أكبر } مما يسمع منهم فلهذا { لا يألونكم خبالا } أي: لا يقصرون في حصول الضرر عليكم والمشقة وعمل الأسباب التي فيها ضرركم ومساعدة الأعداء عليكم قال الله للمؤمنين { قد بينا لكم الآيات } أي: التي فيها مصالحكم الدينية والدنيوية { لعلكم تعقلون } فتعرفونها وتفرقون بين الصديق والعدو، فليس كل أحد يجعل بطانة

Allah Ta’ala melarang hambaNya yang mukmin mengangkat orang-orang dari luar kalangan Muslimin yaitu munafiqin dari Ahli Kitab dan lainnya, (yakni dilarang) menampakkan rahasia-rahasia kaum mukminin kepada  mereka atau mengangkat mereka sebagai pemimpin (yang mengurusi) sebagian pekerjaan islami. Hal itu karena mereka itu adalah musuh-musuh yang hati mereka penuh dengan permusuhan dan kebencian, maka tampak pada mulut-mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi daripada apa yang dapat didengar dari mereka. Oleh karena itu mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Artinya tidak henti-hentinya mereka berupaya memadharati kalian dan menyusahkan serta berbuat apa saja yang menyebabkan bahaya bagi kalian, dan mereka membantu musuh-musuh kalian. Allah berfirman untuk mukminin: sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), artinya: yang di dalamnya ada kemaslahatan agama dan dunia kalian (mukminin). jika kamu memahaminya, maka kalian mengenalnya dan membedakan antara teman dengan musuh, maka tidak semua orang itu dijadikan grup (mu). (Tafsir as-Sa’di QS Ali ‘Imran: 118).
Jama’ah jum’ah rahimakumullah, ada  Ancaman Allah terhadap orang yang memilih orang kafir jadi pemimpin.
Allah Ta’ala berfirman:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (139) وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا  [النساء : 138 - 140]

138. Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,
139. (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.
140. Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam neraka Jahannam.  (QS An-Nisaa’: 138, 139, 140).
Dalam tafsir al-Muyassar dijelaskan:
Kabarkanlah –wahai Rasul– kepada orang-orang munafik—yaitu orang-orang yang menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran–  bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih.
(yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin – dan menjadikan mereka sebagai penolong-penolongnya– dengan meninggalkan – kepemimpinan– orang-orang mukmin –dan tidak menyukai kasih sayang kepada mu’minin.. Apakah mereka mencari kekuatan – dan ketahanan– di sisi orang kafir itu? –sesungguhnya mereka (kafirin) tidak memiliki kekuatan itu– maka sesungguhnya semua kekuatan – pertolongan dan kemuliaan itu hanya–  kepunyaan Allah – Ta’ala saja.
Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu – wahai orang-orang mu’min– di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain—yang bukan pembicaraan kekafiran dan melecehkan ayat-ayat Allah. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka –karena berarti kamu rela dengan kekafiran mereka dan pelecehan dari mereka, sedang orang yang rela kepada kemaksiatan itu sama dengan pelaku maksiat itu sendiri. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam neraka Jahannam –mereka menemui di dalam neraka itu buruknya adzab.(Tafsir Al-Muyassar, pada Surat An-Nisaa’ ayat 138-140)
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, cukuplah kenyataan sadisnya orang kafir dalam membantai Ummat Islam, baik yang berlangsung sekarang maupun yang tertera dalam sejarah itu sebagai pelajaran dan peringatan yang nyata. Lebih dari itu ancaman Allah Ta’ala yang mengandung konsekuensi baik di dunia maupun di akherat bila Ummat Islam berkasih-kasihan dengan orang kafir bahkan mengangkatnya sebagai pemimpin atau orang kepercayaan. Oleh karena itu, sudah saatnya kita ingat kepada Allah dengan tunduk patuh.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ [الحديد/16]

16. Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Al-Hadid/ 57: 16).
Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan Ummat Islam di mana saja, dan mengadzab musuh-musuh Islam di mana saja. Dan semoga Ummat Islam diberi petunjuk hidayah dan taufiq sehingga tidak berkasih-kasihan dengan orang kafirin, yahudi, musyrikin, dan munafiqin yang akan mencelakakan Muslimin. Cukuplah Allah sebagai penolong dan memang Dia Maha menolong hamba-hambaNya yang taat kepadaNya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.

 (nahimunkar.com)