Minggu, 26 Oktober 2014

INDONESIA SUBSIDI GAS KE CINA Rp.180 TRILYUN / TAHUN..!!
Indonesia subsidi gas ke Cina sebesar Rp 180 trilyun /tahun.
Harga gas Indonesia dikunci mati sebesar harga minyak US$ 38/barrel.
Padahal harga minyak dunia sudah US$ 95/barrel…
Dengan harga minyak US$ 95/barrel, harusnya harga gas kita ke Cina direvisi minimal jadi US$ 75/barrel.
Ibarat kata rakyat kita beli bensin Rp 6500 saja diteriaki kemurahan dan harus dinaikkan.
Lah Cina yang beli gas setara dengan bensin diharga Rp 3800/liter kok dibiarkan?
Daripada dijual ke Cina secara murah, mending jual saja ke rakyat sendiri dengan harga 2x lipat daripada ke Cina. Itu tetap lebih murah dari harga gas di Indonesia sekarang.
Sampai sekarang kita bisa menghasilkan 1,5 juta barel per hari setara minyak bisa kita hasilkan. Minyak sendiri 0,93 juta barel per hari, lifting terus turun...
52 persen diekspor dengan harga murah sekali. Akhirnya pada tutup semua. Sudah terikat kontrak dengan China, Jepang. Kita menyubsidi ke pertumbuhan ekonomi negara lain...

Sabtu, 25 Oktober 2014

SIAPA YANG TIDAK INGIN MENJADI IBU SEPERTI BELIAU ?
Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih sangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?
Namanya Ibu Septi Peni Wulandani.
Kalau kita search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.
Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut.
Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya?
Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran. Akhirnya beliaupun menikah.
Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah......Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren?Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga.
Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih.
Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan?
Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?
Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget.
Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.
Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.
Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!! Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20.
Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.
Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:
1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan
2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.
3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.
4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.
5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!
6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai
7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.
8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.
9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta
10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.
11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama.
Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya.Daaaan masih banyak lagi.
Teman-teman yang tertarik bisa kepo twitter ibu @septipw atau gabung dan ikut kuliah online tentang keiburumahtanggaan di ibuprofesional.com.
Hhhhmmm. Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa.
Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife.
So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please, housewife is the most presticious career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi. Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.
Dari kisah di atas, saya juga menarik kesimpulan bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Bukankah dari keluarga karakter anak itu terbentuk? Wallahualambisshawab.
Semoga ada yang bisa diambil pelajaran.
================
1. "LIKE/SUKA" jika Bunda menyukai ini.
2. "COMMENT/KOMENTAR" untuk menanggapi artikel ini.
3. "SHARE/BAGIKAN" jika dirasa bermanfaat untuk orang lain.
Dinukil dari mbak Himsa di www.azaleav.wordpress.com,
Diposting ulang oleh www.facebook.com/Hamilea

Jumat, 24 Oktober 2014

"SEORANG NENEK MENCURI SINGKONG KARNA KELAPARAN, HAKIM MENANGIS SAAT MENJATUHKAN VONIS'' !!
diruang sidang pengadilan, hakim Marzuki duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU thdp seorg nenek yg dituduh mencuri singkong, nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya lapar,.... namun manajer PT A* K ( B grup ) tetap pada tunt...utannya, agar menjd contoh bg warga lainnya. Hakim Marzuki menghela nafas., dia memutus diluar tuntutan jaksa PU, 'maafkan saya', ktnya sambil memandang nenek itu,. 'saya tak dpt membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jd anda hrs dihukum. saya mendenda anda 1jt rupiah dan jika anda tdk mampu bayar maka anda hrs msk penjara 2,5 tahun, spt tuntutan jaksa PU'. Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam, smtr hakim Marzuki mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang 1jt rupiah ke topi toganya serta berkata kpd hadirin. " Saya atas nama pengadilan, jg menjatuhkan denda kpd tiap org yg hadir diruang sidang ini sebesar 50rb rupiah, sebab menetap dikota ini, yg membiarkan seseorg kelaparan sampai hrs mencuri utk memberi mkn cucunya, sdr panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kpd terdakwa ." Sampai palu diketuk dan hakim marzuki meninggaikan ruang sidang, nenek itupun pergi dgn mengantongi uang 3,5jt rupiah, termsk uang 50rb yg dibayarkan oleh manajer PT A K* yg tersipu malu krn telah menuntutnya. Sungguh sayang kisahnya luput dari pers,karena pemerintah malu sebab mereka hanya bisa menguras uang rakyat dan menghakimi rakyat kecil. Kisah ini sungguh menarik sekiranya ada teman yg bisa mendapatkan dokumentasi kisah ini bisa di share di media tuk jadi contoh kepada aparat penegak hukum lain utk bekerja menggunakan hati nurani dan mencontoh hakim Marzuki yg berhati mulia.
SUBHANAALAH
jumlah rakyat miskin 28,28 juta jiwa atau 11,25 Dari total populasi penduduk Indonesia
Maka ini adalah suatu ketidak adilan Bagi saudara Kita yang masih terjerat kemiskinan
Karena Mr president hanya Aka
n mengaanggarkan subsidi bbm hanya 20 juta keluarga
Makan 8 juta keluarga yang masih di Herat kemiskinan Akan bertambah suruah kehidupan Nya...
Sungguh ironi jika fakta ini di a baikan begitu Saja Oleh Mr president..
Dan jika Kita melihat fakta yang si sampaikan Oleh kader PDI P.
rieke diah pitaloka maka Akan banyak Lagi saudara Kita yang Akan mati pelan2 Oleh kebijakan Mr president
Karena diah pitaloka mengatakan angka kemiskinan Indonesia masih berada sekitar 120 juta jiwa...

Dengan nada berapi-api Kwik Kian Gie mempertanyakan peran Sofjan Wanandi di belakang pemerintahan baru Jokowi-Jusuf Kalla. Menurut Kwik, Sofjan terlihat seperti bisa mendikte presiden terpilih. Dalam beberapa kesempatan Jokowi bahkan harus menelan ludahnya sendiri dan menyesuaikan pernyataannya dengan pernyataan-pernyataan Sofjan Wanandi. Salah satu yang mencolok adalah dalam hal menjelaskan postur dan jumlah kursi kabinet.

Saya beruntung tak melewatkan adegan kemarahan Kwik dalam acara ILC (Indonesia Lawyers Club) yang disiarkan langsung tadi malam, Selasa, 21 Oktober 2014, itu. Dalam benak saya, seandainya gugatan itu tak keluar dari mulut Kwik, tokoh senior di PDI-P, dan bekas orang kepercayaan Megawati, banyak orang mungkin akan memberikan tuduhan “tidak legowo” dan “rasis”. Sejak lama, setiap serangan pada Sofjan Wanandi memang selalu membentur tembok sensitif itu: SARA (Suku, Agama, Ras, Antar-golongan).
Pada awal 1998, dalam sebuah acara buka puasa bersama yang dihadiri oleh ribuan orang, Prabowo Subianto berceramah mengenai krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia. Dalam ceramahnya, ia menyesalkan sikap sejumlah konglomerat dari golongan Tionghoa yang telah melarikan modalnya ke luar negeri (capital flight). Mereka tumbuh dan menjadi besar dengan fasilitas negara, namun ketika negara tertimpa krisis, mereka malah melarikan duitnya ke Singapura. Nama yang disebut Prabowo di antaranya adalah Sofjan Wanandi.
Dalam otobiografi Jusuf Wanandi, kakak Sofjan Wanandi, “Menyibak Tabir Orde Baru” (2014), secara insinuatif Jusuf menyebut bahwa acara buka bersama itu dihadiri oleh kelompok ekstremis dan garis keras kanan yang menyebarkan kebencian terhadap etnis Tionghoa dan golongan Katolik. Tuduhan itu tentu saja menggelikan. Bisa dibayangkan, sebuah serangan politik kepada Sofjan Wanandi telah dibelokan sedemikian rupa seolah merupakan serangan terhadap golongan Tionghoa dan Katolik.
Jika kita buka kembali rekaman peristiwa itu, serangan kepada Sofjan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan soal SARA, melainkan murni analisis ekonomi-politik. Sejak krisis ekonomi menerpa, Bank Indonesia mencatat jumlah modal yang dilarikan ke luar negeri hingga 1999 tak kurang dari USD 80 miliar. Dan dana itu memang sebagian besar dilarikan oleh para konglomerat etnis Tionghoa.
Usaha para konglomerat untuk melarikan modal ke luar negeri sebenarnya telah berlangsung sejak awal 1990-an. Jika kita membuka-buka kembali arsip berita-berita ekonomi antara 1991 hingga 1997, usaha untuk melarikan modal ke luar negeri telah dilakukan oleh sejumlah konglomerat dengan menggunakan berbagai modus. Majalah-majalah berita ekonomi, seperti PROSPEK dan WARTA EKONOMI, pada awal 1990-an berkali-kali mengangkat tema soal nasionalisme para konglomerat itu.
Kasus yang paling menghebohkan tentu saja adalah ketika Sudono Salim menjual mayoritas saham PT Indofood Sukses Makmur kepada sebuah perusahaan roti kecil di Singapura, QAF, yang juga miliknya. Akal-akalan semacam itu mendapat pembelaan dari para konglomerat lainnya. Sofjan Wanandi, misalnya, yang sejak lama memang disebut sebagai juru bicaranya para konglomerat, menyebut tindakan Salim itu sebagai murni strategi bisnis untuk menghadapi globalisasi, dan bukan merupakan bentuk capital flight.
Jadi, kecaman kepada konglomerat etnis Tionghoa pada masa itu memiliki dasar argumen ekonomi-politik yang jelas, bukan berpijak di atas sentimen rasial dan keagamaan.
Untuk menarik kembali modal yang sudah dilarikan itu, pada 11 November 1999, Gus Dur harus berbicara di Hotel Shangrilla Singapura, di hadapan tak kurang dari 500 pengusaha Tionghoa, seperti Sudono Salim, Eka Tjipta Widjaja, Mochtar Riyadi, James Riyadi, Edward Soerjadjaja, atau Tong Djoe. Nama terakhir, Tong Djoe, adalah penghubung antara Gus Dur dengan Lee Kuan Yew. Ya, untuk menarik kembali duit para konglomerat itu, Gus Dur sampai harus menjadikan Lee sebagai penasihat Presiden RI di bidang ekonomi.
Sebelum kembali ke Indonesia pada Oktober 1999, ketika Gus Dur dan Megawati naik menjadi presiden dan wakil presiden, Sofjan Wanandi adalah buronan Mabes Polri. Ia masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak 1998. Ia melarikan diri ke berbagai negara, seperti Singapura, Australia, Amerika, Eropa dan Jepang. Ada berbagai tuduhan yang disangkakan kepada Sofjan, seperti penyelewengan pajak, kredit macet, terlibat kasus commercial paper, serta terlibat kasus bom Tanah Tinggi. Sofjan, bersama dengan Surya Paloh, dianggap sebagai penyandang dana dari insiden bom yang melibatkan anak-anak PRD itu, meskipun tuduhan itu dibantah oleh keduanya. Dalam proses pemeriksaan, dengan alasan memeriksakan kesehatan, Sofjan melarikan diri ke luar negeri hingga pemerintahan berganti ke tangan Gus Dur.
Pada 21 Oktober 1999, Sofjan tak hanya bisa kembali ke Indonesia. Ia bahkan diminta oleh Gus Dur untuk duduk menjadi anggota Dewan Ekonomi Nasional. Sebagai juru bicara para konglomerat, posisi Sofjan sepertinya memang sangat kuat. Apalagi, sebagai salah satu pendiri CSIS, ia memang dikenal dekat dengan Gus Dur.
Apakah ditunjuknya Sofjan sebagai salah satu penasihat presiden pada 1999 merupakan bentuk lobi kepada para konglomerat Tionghoa agar mereka bersedia untuk kembali menginvestasikan modalnya ke Indonesia, atau lebih karena dia memiliki kedekatan saja dengan penguasa masa itu? Ini sebenarnya adalah obyek penelitian yang menarik.
Sofjan, waktu itu, tentu saja bukan orang dekat Megawati. Sofjan bahkan bisa dikatakan merupakan musuh Megawati. Dalam konflik perebutan kursi ketua umum PDI, yang memuncak pada Peristiwa 27 Juli 1996, Sofjan berada di kubu Soerjadi. Fragmen ini juga diceritakan dalam otobiografi Jusuf Wanandi. Menurut Jusuf, sebagai orang yang ikut bertanggung jawab dalam menjatuhkan Soekarno, Sofjan tentu saja tidak memiliki kepercayaan pada Mega. Oleh karenanya ia mendukung Soerjadi. Apalagi Soerjadi adalah bekas direktur salah satu perusahaannya. Ya, Sofjan telah mengenal Soerjadi sejak 1965, ketika sebagai aktivis KAMI Sofjan mencoba merangkul aktivis-aktivis mahasiswa PNI yang anti-PKI. Konflik di tubuh PDI itu sendiri menarik. Dalam otobiografinya Jusuf mengaku bahwa dia dan Benny berada di kubu Mega, sementara Sofjan berada di kubu Soerjadi.
Kembali kepada kemarahan Kwik, saya kira jika serangan kepada Sofjan itu tidak keluar dari mulut Kwik, ia pasti akan segera dituduh rasis. Untungnya kritik itu dilontarkan oleh Kwik. Persis di situ kita harus memproblematisasi isu SARA dengan jernih.
Politik yang beradab memang harus menyingkirkan jauh-jauh sentimen SARA. Namun membelokkan setiap kritik dengan argumen yang terang menjadi seolah bernuansa SARA, jelas jauh lebih berbahaya, karena bisa menjadikan isu sensitif tadi sebagai tempat persembunyian yang nyaman untuk menyembunyikan kebusukan.
Tarli Nugroho

Dengan nada berapi-api Kwik Kian Gie mempertanyakan peran Sofjan Wanandi di belakang pemerintahan baru Jokowi-Jusuf Kalla. Menurut Kwik, Sofjan terlihat seperti bisa mendikte presiden terpilih. Dalam beberapa kesempatan Jokowi bahkan harus menelan ludahnya sendiri dan menyesuaikan pernyataannya dengan pernyataan-pernyataan Sofjan Wanandi. Salah satu yang mencolok adalah dalam hal menjelaskan postur dan jumlah kursi kabinet.
Saya beruntung tak melewatkan adegan kemarahan Kwik dalam acara ILC (Indonesia Lawyers Club) yang disiarkan langsung tadi malam, Selasa, 21 Oktober 2014, itu. Dalam benak saya, seandainya gugatan itu tak keluar dari mulut Kwik, tokoh senior di PDI-P, dan bekas orang kepercayaan Megawati, banyak orang mungkin akan memberikan tuduhan “tidak legowo” dan “rasis”. Sejak lama, setiap serangan pada Sofjan Wanandi memang selalu membentur tembok sensitif itu: SARA (Suku, Agama, Ras, Antar-golongan).
10712861_782813125112022_8574009061398698903_n
Pada awal 1998, dalam sebuah acara buka puasa bersama yang dihadiri oleh ribuan orang, Prabowo Subianto berceramah mengenai krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia. Dalam ceramahnya, ia menyesalkan sikap sejumlah konglomerat dari golongan Tionghoa yang telah melarikan modalnya ke luar negeri (capital flight). Mereka tumbuh dan menjadi besar dengan fasilitas negara, namun ketika negara tertimpa krisis, mereka malah melarikan duitnya ke Singapura. Nama yang disebut Prabowo di antaranya adalah Sofjan Wanandi.
Dalam otobiografi Jusuf Wanandi, kakak Sofjan Wanandi, “Menyibak Tabir Orde Baru” (2014), secara insinuatif Jusuf menyebut bahwa acara buka bersama itu dihadiri oleh kelompok ekstremis dan garis keras kanan yang menyebarkan kebencian terhadap etnis Tionghoa dan golongan Katolik. Tuduhan itu tentu saja menggelikan. Bisa dibayangkan, sebuah serangan politik kepada Sofjan Wanandi telah dibelokan sedemikian rupa seolah merupakan serangan terhadap golongan Tionghoa dan Katolik.
Jika kita buka kembali rekaman peristiwa itu, serangan kepada Sofjan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan soal SARA, melainkan murni analisis ekonomi-politik. Sejak krisis ekonomi menerpa, Bank Indonesia mencatat jumlah modal yang dilarikan ke luar negeri hingga 1999 tak kurang dari USD 80 miliar. Dan dana itu memang sebagian besar dilarikan oleh para konglomerat etnis Tionghoa.
Usaha para konglomerat untuk melarikan modal ke luar negeri sebenarnya telah berlangsung sejak awal 1990-an. Jika kita membuka-buka kembali arsip berita-berita ekonomi antara 1991 hingga 1997, usaha untuk melarikan modal ke luar negeri telah dilakukan oleh sejumlah konglomerat dengan menggunakan berbagai modus. Majalah-majalah berita ekonomi, seperti PROSPEK dan WARTA EKONOMI, pada awal 1990-an berkali-kali mengangkat tema soal nasionalisme para konglomerat itu.
Kasus yang paling menghebohkan tentu saja adalah ketika Sudono Salim menjual mayoritas saham PT Indofood Sukses Makmur kepada sebuah perusahaan roti kecil di Singapura, QAF, yang juga miliknya. Akal-akalan semacam itu mendapat pembelaan dari para konglomerat lainnya. Sofjan Wanandi, misalnya, yang sejak lama memang disebut sebagai juru bicaranya para konglomerat, menyebut tindakan Salim itu sebagai murni strategi bisnis untuk menghadapi globalisasi, dan bukan merupakan bentuk capital flight.
Jadi, kecaman kepada konglomerat etnis Tionghoa pada masa itu memiliki dasar argumen ekonomi-politik yang jelas, bukan berpijak di atas sentimen rasial dan keagamaan.
Untuk menarik kembali modal yang sudah dilarikan itu, pada 11 November 1999, Gus Dur harus berbicara di Hotel Shangrilla Singapura, di hadapan tak kurang dari 500 pengusaha Tionghoa, seperti Sudono Salim, Eka Tjipta Widjaja, Mochtar Riyadi, James Riyadi, Edward Soerjadjaja, atau Tong Djoe. Nama terakhir, Tong Djoe, adalah penghubung antara Gus Dur dengan Lee Kuan Yew. Ya, untuk menarik kembali duit para konglomerat itu, Gus Dur sampai harus menjadikan Lee sebagai penasihat Presiden RI di bidang ekonomi.
Sebelum kembali ke Indonesia pada Oktober 1999, ketika Gus Dur dan Megawati naik menjadi presiden dan wakil presiden, Sofjan Wanandi adalah buronan Mabes Polri. Ia masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak 1998. Ia melarikan diri ke berbagai negara, seperti Singapura, Australia, Amerika, Eropa dan Jepang.
Ada berbagai tuduhan yang disangkakan kepada Sofjan, seperti penyelewengan pajak, kredit macet, terlibat kasus commercial paper, serta terlibat kasus bom Tanah Tinggi. Sofjan, bersama dengan Surya Paloh, dianggap sebagai penyandang dana dari insiden bom yang melibatkan anak-anak PRD itu, meskipun tuduhan itu dibantah oleh keduanya.
Dalam proses pemeriksaan, dengan alasan memeriksakan kesehatan, Sofjan melarikan diri ke luar negeri hingga pemerintahan berganti ke tangan Gus Dur.
Pada 21 Oktober 1999, Sofjan tak hanya bisa kembali ke Indonesia. Ia bahkan diminta oleh Gus Dur untuk duduk menjadi anggota Dewan Ekonomi Nasional. Sebagai juru bicara para konglomerat, posisi Sofjan sepertinya memang sangat kuat. Apalagi, sebagai salah satu pendiri CSIS, ia memang dikenal dekat dengan Gus Dur.
Apakah ditunjuknya Sofjan sebagai salah satu penasihat presiden pada 1999 merupakan bentuk lobi kepada para konglomerat Tionghoa agar mereka bersedia untuk kembali menginvestasikan modalnya ke Indonesia, atau lebih karena dia memiliki kedekatan saja dengan penguasa masa itu? Ini sebenarnya adalah obyek penelitian yang menarik.
Sofjan, waktu itu, tentu saja bukan orang dekat Megawati. Sofjan bahkan bisa dikatakan merupakan musuh Megawati. Dalam konflik perebutan kursi ketua umum PDI, yang memuncak pada Peristiwa 27 Juli 1996, Sofjan berada di kubu Soerjadi. Fragmen ini juga diceritakan dalam otobiografi Jusuf Wanandi. Menurut Jusuf, sebagai orang yang ikut bertanggung jawab dalam menjatuhkan Soekarno, Sofjan tentu saja tidak memiliki kepercayaan pada Mega.
Oleh karenanya ia mendukung Soerjadi. Apalagi Soerjadi adalah bekas direktur salah satu perusahaannya. Ya, Sofjan telah mengenal Soerjadi sejak 1965, ketika sebagai aktivis KAMI Sofjan mencoba merangkul aktivis-aktivis mahasiswa PNI yang anti-PKI. Konflik di tubuh PDI itu sendiri menarik. Dalam otobiografinya Jusuf mengaku bahwa dia dan Benny berada di kubu Mega, sementara Sofjan berada di kubu Soerjadi.
Kembali kepada kemarahan Kwik, saya kira jika serangan kepada Sofjan itu tidak keluar dari mulut Kwik, ia pasti akan segera dituduh rasis. Untungnya kritik itu dilontarkan oleh Kwik. Persis di situ kita harus memproblematisasi isu SARA dengan jernih.


Politik yang beradab memang harus menyingkirkan jauh-jauh sentimen SARA. Namun membelokkan setiap kritik dengan argumen yang terang menjadi seolah bernuansa SARA, jelas jauh lebih berbahaya, karena bisa menjadikan isu sensitif tadi sebagai tempat persembunyian yang nyaman untuk menyembunyikan kebusukan


HANOI - Fakta Cina kafir sebagai lintah darat dan parasit penghisap pribumi memang sudah menjadi label internasional. Rakyat Vietnam
yang sadar dengan permainan cukong Cina tak kuasa melihat haknya diacak-acak Overseas Chinese.
Vietnam belum lama ini diguncang kerusuhan massal yang merata di seluruh negeri. Rakyat Negeri Paman Ho yang kelewat marah melakukan demo untuk mengusir orang-orang Cina keluar dari Vietnam.
”Mereka menguasai harta benda kami dan menjadikan kami sebagai budaknya,” tukas seorang warga Hanoi yang ikut turun ke jalan, 24 Mei 2014.
Pemerintah Cina sendiri tak tinggal diam dengan aksi pribumi Vietnam. Cina mengirimkan lima kapal untuk mengevakuasi ribuan warga keturunannya dari Vietnam. Satu kapal Cina yang mengangkut 3.000 warganya dari Vietnam sudah berlabuh di Hainan.
Selain lewat laut, Cina juga mengirimkan pesawat. Salah satu pesawat Cina bahkan mengangkut 16 warganya yang semua dalam kondisi kritis akibat menjadi sasaran kemarahan warga Vietnam.
Dalam insiden terakhir akhir pecan ini, dua warga Cina dilaporkan tewas di Provinsi Ha Tinh dan ratusan warga Cina luka parah. Warga Ha Tinh tak bisa menahan amarah akibat tindakan warga Cina yang kelewat batas mencekik pribumi.
Cina memang amat tamak dan arogan. Beberapa waktu lalu, Beijing meresmikan pembangunan kilang minyak di Laut China Selatan yang masih menjadi sengketa antara Cina dan Vietnam. Cina bahkan menempatkan ratusan kapal perang dan menetapkan ”zona usir” sejauh tiga mil dari kilang baru itu. Kapal mana saja yang mendekat di radius itu, harus siap menerima kiriman missile dari kapal perang Cina.
”Kami tidak takut menghadapi masalah ini,” tukas Jenderal Feng Fenghui, Kepala Staf Militer Cina di
Beijing saat berkomentar soal konflik dengan Vietnam.
Vietnam sendiri dikenal sebagai negara Komunis yang amat membatasi kebebasan warganya, termasuk urusan demo. Namun, khusus untuk demo Anti-Cina, pemerintah Vietnam tak bisa berbuat apa-apa. Berbagai demo Anti-Cina rata-rata berakhir dengan rusuh. Polisi Vietnam yang berusaha mengendalikan demo bahkan sering menjadi korban luka di samping para warga Cina pendatang.
Kebencian warga Vietnam kepada Cina memang ibarat bisul menahun yang tinggal menunggu pecah. Sektor-sektor ekonomi Vietnam memang bermuara ke kantong para cukong Cina. Hampir seluruh lini kehidupan warga Vietnam dikuasai oleh Cina. Gimana Indonesia? Harusnya lebih pantas untuk Anti-Cina kafir. Atau diam menunggu terjajah China seperti kaum muslimin melayu di Singapura?