Selasa, 18 November 2014


Laporan Greenpeace: Freeport Ancam Kelestarian Laut Indonesia


Facebook0Twitter48LinkedIn1Google+2Email
 Greenpeace mendokumentasikan keragaman hayati dan lingkungan di Papua yang terancam dan menanti aksi segera agar terlindungi. Foto: Paul Hilton/ Greenpeace

Greenpeace mendokumentasikan keragaman hayati dan lingkungan di Papua yang terancam dan menanti aksi segera agar terlindungi. Foto: Paul Hilton/ Greenpeace
Freeport membuang lebih dari 200.000 ton tailing per hari ke Sungai Otomina dan Aikwa, yang mengalir ke Laut Arafura. Greenpeace akan memantau dampak limbah Freeport dan melakukan pengujian parameter di lapangan.
Ekosistem laut Indonesia kaya keragaman hayati tetapi berada dalam bahaya besar. Laut Indonesia terancam baik dari penangkapan ikan merusak, perubahan iklim, pembangunan pesisir, serta tambang. Contoh paling mengerikan ekstraksi sumber daya tak lestari itu operasi Freeport McMoran di Papua Barat.
Pembuangan tailing Freeport McMoRan di tambang emas-perak-tembaga di Papua Barat mengalir ke Sungai Otomina dan Ajkwa, menuju ke Laut Arafura. Tambang ini memproduksi dan membuang lebih dari 200.000 ton tailing per hari, lebih dari 80 juta ton per tahu. Hingga 2006, tambang ini diperkirakan telah membuang lebih dari tiga miliar ton tailing, sebagian besar berakhir di lautan.
Demikian terungkap dalam laporan Greenpeace bertajuk “Laut Indonesia Dalam Krisis” yang dirilis Rabu(24/7/13).  Laporan ini, merupakan rangkuman studi literatur Greenpeace untuk mendapatkan gambaran umum ancaman yang dihadapi laut Indonesia.
Arifsyah M. Nasution, Jurukampanye Laut Greenpeace Indonesia  mengatakan,  Greenpeace segera menindaklanjuti isu-isu penting yang muncul dan disoroti dalam laporan ini, seperti illegal fishing, overfishing dan dampak pertambangan pencemaran sungai dan laut, terutama operasi Freeport di Papua Barat, Papua. “Greenpeace akan memantau dampak dan melakukan pengujian parameter lingkungan di lapangan,” katanya kepada Mongabay, Kamis (25/7/13).
Dia mengatakan, Visi Kelautan Indonesia 2025 telah dideklarasikan akhir Mei 2013. Hal itu bagian komitmen dan semangat kampanye lingkungan Greenpeace di Indonesia bersama mitra.  “Jadi, aksi-aksi Greenpeace ke depan akan menyorot hal-hal terkait langsung dengan dampak yang ditimbulkan Freeport.”
Balthasar Kambuaya, Menteri Lingkungan Hidup RI, belum lama ini mengakui, tailing Freeport langsung ke sungai itu berbahaya bagi lingkungan. Dalam aturan di Indonesia pun, kata Kambuaya, dilarang. Namun, dia tak bisa menjelaskan mengapa peraturan itu tak bisa dijalankan.
Sampai berita ini diturunkan, konfirmasi Mongabay kepada Freeport mengenai limbah tailing yang mengancam laut Indonesia, belum mendapat tanggapan.
Penangkapan ikan berlebih dan menggunakan cara-cara tak lestari mengancam kelangsungan populasi mereka di laut Indonesia. Foto; Paul Hilton/ Greenpeace
Penangkapan ikan berlebih dan menggunakan cara-cara tak lestari mengancam kelangsungan populasi mereka di laut Indonesia. Foto; Paul Hilton/ Greenpeace
Laut Indonesia-Screen Shot 2013-07-25 at 1.46.09 PM
Kerusakan Terumbu, Padang Lamun dan Mangrove
Laporan itu juga mengetengahkan, data World Resources Institute (WRI)  pad 2011, ada 139 ribu kilimeter (km) persegi kawasan laut yang dilindungi di Indonesia. Pemerintah berupaya menambah, menjadi 200 ribu km pada 2020. Namun, pengelolaan kekayaan keragaman hayati laut dan pesisir ini masih terancam.
Kondisi terumbu karang, misal, sungguh mengkhawatirkan karena banyak kerusakan. Penyebab kerusakan, antara lain pembangunan di wilayah pesisir, pembuangan limbah dari berbagai aktivitas di darat dan laut, sedimentasi akibat rusaknya wilayah hulu, sampai penambangan terumbu karang.
Mangrove juga terdegradasi hebat. Dari 1982 hingga 2000, Indone-sia kehilangan lebih setengah hutan mangrove, dari 4,2 juta hektar hingga 2 juta hektar. Tak jauh beda dengan nasib padang lamun. Ekosistem padang lamun Indonesia kurang dipelajari dibanding terumbu karang dan mangrove.
Berdasar berbagai indikasi, padang lamun juga rentan gangguan alam dan kegiatan manusia, seperti pengerukan terkait pembangunan real estate pinggir laut, pelabuhan, industri, saluran navigasi, dan limbah industri. Terutama logam berat dan senyawa organolokrin, pembuangan limbah organik, limbah pertanian, pencemaran minyak, dan perusakan habitat di lokasi pembuangan hasil pengerukan.
“Indonesia negara penghasil ikan terbesar ketiga di dunia setelah China dan Peru, tetapi saat produksi meningkat, stok ikan Indonesia menurun karena degradasi ekosistem dan penangkapan ikan berlebih,” kata Arifsyah.
Untuk itu, kampanye laut Greenpeace di Indonesia, sebagai upaya mempertahankan kekayaan laut negeri ini. Kampanye ini penting,  karena Indonesia salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang bisa memainkan peran penting memimpin inisiatif regional dan global menuju penggunaan sumberdaya laut bertanggung jawab dan lestari.
Indonesia memiliki 17.504 pulau. Garis pantai mencapai 95.181 km persegi, terpanjang di dunia setelah Kanada, Amerika Serikat dan Rusia. Enam puluh lima persen dari total 467 kabupaten dan kota di Indonesia, di pesisir. Pada 2010 populasi penduduk Indonesia mencapai lebih dari 237 juta orang, lebih dari 80 persen hidup di kawasan pesisir.
Jika kerusakanekosistem laut dibiarkan berlanjut, keragaman hayati yang begitu indah dan kaya ini pelahan hilang. Foto: Paul Hilton/ Greenpeace
Jika kerusakanekosistem laut dibiarkan berlanjut, keragaman hayati yang begitu indah dan kaya ini pelahan hilang. Foto: Paul Hilton/ Greenpeace
Kerusakan mangrove di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Kerusakan mangrove di Indonesia, terus meningkat. Foto: Sapariah Saturi
Kerusakan mangrove di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Kerusakan mangrove di Indonesia, terus meningkat. Foto: Sapariah Saturi