Selasa, 28 Oktober 2014

Nigeria : Konflik Sektarian Atau Perang Terhadap Islam?

Nigeria kembali bergolak, setelah sempat mereda.  Ratusan orang meninggal dan terluka, dalam sebuah genosida yang oleh sebagian digambarkan sebagai perselisihan sektarian. Perselisihan antara  kaum Muslim dan Kristen di negeri Islam, Afrika yang multietnis dan suku. Penduduk  Nigeria sendiri mencapai mencapai 160 juta jiwa.
Meningkatnya kekerasan bulan terakhir ini, menimbulkan banyak pertanyaan tentang realitas konflik ini. Siapa yang berada di belakangnya? Siapa sesungguhnya yang memanfaatkannya? Apakah itu adalah konflik antara kekuatan yang sama, atau perang yang dilakukan oleh orang Kristen dan Barat terhadap kaum Muslim di Nigeria, yang menurut data beberapa statistiknya jumlahnya antara 60 -75 persen.
Mayoritas yang Tertindas
Konflik di Nigeria sebenarnya tidak dapat dimasukkan dalam “konflik sektarian” dengan alasan apapun. Sebab yang terjadi adalah pembantaian terhadap kaum Muslim, sebagai warga mayoritas. Ini merupakan sesuatu yang belum terjadi sebelumnya, di mana warga mayoritas tertindas di negeri mereka sendiri. Namun di Nigeria berbeda. Meskipun keberadaan Islam sangat kuat di 19 wilayah bagian utara yang dihuni oleh suku Hausa dan Fulani, di mana jumlah kaum Muslim di sana mencapai 95 persen, dan lebih dari 12 wilayah di bagian utara menerapkan syariah Islam, termasuk minoritas Muslim di selatan, tetapi Muslim Nigeria menderita kemiskinan dan marjinalisasi.
Sebaliknya, orang Kristen yang keberadaan mereka kuat di enam belas wilayah bagian selatan, dan sebagian besar dari mereka berasal dari dari suku Ibo, mereka menguasai kekayaan minyak yang menjadikan Nigeria eksportir minyak utama di Afrika. Mereka juga menguasai semua perusahaan dan lembaga keuangan, keamanan dan kebijakan pemerintahan. Hal inilah yang membuat seorang Muslim sulit—meskipun ia memiliki keahlian dan ilmu yang berkualitas—untuk mendapatkan pekerjaan di lembaga pemerintah atau non-pemerintah, selama ia masih menyandang nama Muslim, kecuali ia masuk Kristen dan melepaskan agamanya, serta rasnya dari kaum Muslim.
Hal yang sama terjadi di wilayah di Nigeria tengah, yang warganya merupakan campuran dari dua komunitas, atau di wilayah utara yang mayoritas Muslim. Di kawasan itu kelompok Kristen ekstrim melakukan genosida terhadap kaum Muslim, dengan sepengetahuan pasukan pemerintah dan militer. Ini terjadi karena non-Muslim memonopoli penuh kekuasaan terhadap militer dan polisi dengan bantuan Presiden Nigeria dan pemerintahannya.
Perang Tertutup
Sungguh siapa pun yang mencermati jumlah dan besarnya pembantaian yang dilakukan terhadap kaum Muslim oleh kelompok ekstrimis Kristen pada tahun 1990, 1994 dan 1995, maka sangat dipahami bahwa peristiwa itu tidak dapat dilihat sebagai konflik sektarian. Hal ini diperkuat dengan apa yang terjadi di tahun 2000. Saat itu orang Kristen dengan bantuan  militer melakukan pembantaian di Kaduna. Akibatnya ribuan kaum Muslim meninggal, sementara ribuan dari mereka melarikan diri ke kota-kota sekitarnya. Mereka membakar harta benda milik orang-orang kaya kaum Muslim. Begitu juga apa yang terjadi di tahun 2004, 2010, dan 2011. Dan itulah yang diulang dan terus diulang sekarang di wilayah-wilayah dan waktu yang berbeda, sehingga mengakibatkan ribuan kaum Muslim meninggal.
Barat benar-benar berusaha memanfaatkan operasi kelompok “Boko Haram”—yang dalam bahasa Arab berarti “pendidikan Barat adalah haram”.  Kelompok ini muncul untuk menyerukan boikot terhadap segala sesuatu yang berbau Barat, serta menyerukan penerapan syariah Islam—untuk  menggambarkan persoalan itu sebagai perang sektarian,  atau bahwa kelompok “teroris Muslim” adalah mereka yang melakukan pembantaian ini. Inilah yang tampak jelas dari reaksi Barat.
Sementara Barat selalu menutup mata terhadap operasi pembantaian, penyiksaan, pembakaran orang dan harta benda jika itu dilakukan terhadap kaum Muslim. Sementara itu, Barat tampak bereaksi begitu keras atas sejumlah pelanggaran yang dilakukan oleh kelompok “Boko Haram” dengan menyebutnya sebagai indikasi besarnya pertumbuhan “kekuatan kelompok fundamentalis” di Nigeria. Maka Barat menegaskan pentingnya untuk melawannya dengan keras dan tegas.
Mungkin ini yang memberi lampu hijau kepada pasukan pemerintah untuk melakukan genosida terhadap anggota kelompok tersebut. Hal itu tampak dalam rekaman yang disiarkan oleh Al Jazeera pada tanggal 9 Februari 2010, bagaimana pasukan pemerintah dan militer Nigeria menerapkan eksekusi terhadap sejumlah penduduk sipil, bahkan ada dari mereka tidak bisa berjalan di atas kakinya. Mereka dengan darah dingin menembak setiap kepala dari warga sipil itu secara brutal, jauh dari norma dan hukum agama manapun. Apalagi pembantaian yang dilakukan terhadap kaum Muslim ini terus berkelanjutan dengan keterlibatan polisi dan tentara.
Semua ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa apa yang terjadi adalah perang tertutup terhadap Islam yang melibatkan lembaga-lembaga negara yang dikendalikan oleh kaum Kristen dan didukung oleh Barat. Tujuannya  untuk melenyapkan Islam yang ada di negeri itu.
Kondisi ini muncul ketika peran negeri-negeri Arab dan Islam hilang. Pasca peristiwa 11 September, bantuan dari negeri-negeri Arab dan Islam, tidak ada. Lembaga-lembaga sosial Islam banyak yang ditutup karena dianggap organisasi teroris.  Padahal dulunya lembaga sosial Islam inilah yang banyak berperan membantu kaum Muslim Nigeria dalam menghadapi kemiskinan, kurangnya kesadaran agama, kelemahan budaya dan penyebaran kebodohan, khususnya pada saat gencarnya pemerintah dalam memerangi berdirinya sekolah-sekolah berbau Arab dan Islam.  [] FW dari berbagai sumber
Box :
Boko Haram
Boko Haram didirikan tahun 2002 oleh seorang ‘alim islami Mohammed Yousuf rahimahullah.  Ia ingin berjuang untuk Islam di Nigeria dengan jamaah ini. Gerakan tersebut bermula dengan mengharamkan pendidikan Barat kemudian meluas ke perjuangan untuk menerapkan syariah.
Gerakan tersebut berawal dengan dakwah secara damai sampai serangan-serangan penguasa pada masa Jonathan terhadap jamaah tersebut meningkat drastis.  Pemimpin Boko Haram kemudian dibunuh secara keji pada 30 Juli 2009. Terjadilah serangan penguasa yang didukung oleh Amerika kepada Islam dan kaum Muslim. Semua itu membuat jamaah membela dirinya dengan aksi-aksi fisik.
Aksi-aksi fisik dan pemboman dikaitkan  kepada jamaah tersebut.  Sebagian dilakukan oleh jamaah tersebut untuk membela diri.  Sebagian lainnya dilakukan oleh penguasa dan antek-antek negara-negara besar, khususnya Amerika dan Inggris yang bersaing di Nigeria.  Hal itu untuk mengadakan justifikasi bagi intervensi keamanan di Nigeria dengan alasan membantu negara Nigeria dalam memerangi terorisme dan dengan klaim menjaga keamanan di Nigeria.
Rezim Jonathan berusaha menciptakan suasana perang sipil antara kaum Muslim dan Nasrani melalui serangan-serangan terhadap gereja dan masjid.  Hal itu tampak jelas dalam pernyataan Jonathan pada tanggal 8 Januari 2012.  Khususnya pemimpin jamaah sekarang ini Aboe Bakar Mohammed Shekau telah menyatakan pada tanggal 12 Januar 2012 bahwa tidak ada hubungan antara mereka dengan serangan-serangan itu.
Negara-negara besar, khususnya Amerika, menghegemoni Nigeria sebab Jonathan termasuk antek Amerika.  Sementara Inggris dahulu memiliki pengaruh di Nigeria.  Negara-negara ini tidak perhatian untuk membantu Nigeria ataupun menjaga keamanannya.  Akan tetapi keduanya saling bertarung di Nigeria untuk menghegemoni minyaknya dan untuk menjadikan Nigeria sebagai pusat bagi pengaruh yang dijadikan titik tolak di Afrika