Jumat, 05 September 2014

NEGERI PARA BEDEBAH
UANG SETAN DIMAKAN JIN

SOFYAN WANANDI DAN UTANG 184 TAHUN
==========================================================

Ini bukan sulap dan bukan sihir. Ini betul-betul nyata dan terjadi di Indonesia. Seorang konglomerat sejak zaman Orde Baru, punya utang kepada sebuah bank sebesar Rp92 milyar, namun pembayaran cicilannya dapat dilakukan selama 184 tahun, tanpa bunga lagi.

Tetapi, Anda jangan heran. Karena begitulah adanya di republik ini.
Sementara bank-bank yang menerima kucuran dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) harus mengikatkan diri membayar utang-utangnya selama empat tahun dalam Maste Settelment Aqcusition Agrement (MSAA), tetapi mantan demonstran yang pernah mengeruk keuntungan di zaman Soeharto itu, bisa mencicil utangnya selama 184 tahun.

Ceritanya begini. PT Gemala Container (GC), salah anak perusahan dari Gemala Grup yang dimiliki Sofyan Wanadi, pada sekitar tahun 1995 meminjam uang senilai Rp92 milyar di Bank Nasional Indonesia (BNI). Pinjaman itu diperuntukan untuk membangun perluasan pabrik dan sejumlah kontainer di kawasan Semper, Cilincing, Jakarta Utara.

Yang dipertanyakan oleh Usman Ermulan, anggota Komisi IX DPR itu, kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Sudibyo pada era itu adalah apa dasarnya seorang konglomerat boleh mencicil utangnya selama 184 tahun. Tanpa bunga dan bebas saja.
Ditilik dari jumlah pembayarannya Rp500 juta/tahun, hal ini berarti uang

Sampai saat ini GC mempunyai utang terhadap BNI senilai Rp92 milyar, yang waktu itu peminjamannya dilakukan untuk membangun proyek container.persisnya utang tersebut dilakukan Sofyan diperkirakan pinjaman tersebut sudah dilakuakan sejak lama.

Pada awalnya, utang Sofyan ini berbentuk dolar Amerika Serikat. Namun, lanjutnya, kemudian dikonversi menjadi rupiah, yang pembayaran utangnya direstrukturisasi BNI sendiri. Tetapi dengan kesepakatan akan dicicil
setiap tahunnya Rp500 juta. Anehnya, tanpa bunga.

Padahal, Sofyan mempunyai deposito di BNI senilai Rp40 milyar. Yang mengherankannya, mengapa sih dengan deposito Rp40 milyar itu,BNI tidak mengambil bunganya. Padahal, menurut Usman bunganya pada waktu berkisar antara 10-13 persen/bulan. Apabila diambil 10 persen berarti jumlahnya Rp400 juta dan dia bisa menambah pembayaran sebesar Rp100 juta lagi.

Meskipun oleh bos PT GC, Herman Gozali disebutkan bahwa sejak 1 Maret 1998 Bos Gemala Grup, Sofjan Wanandi bukan lagi pemilik atau pemegang saham langsung dan tidak ikut mengendalikan jalannya PT Gemala Container (GC), namun dia tidak bisa mangkir dan melepaskan tanggungan utangnya senilai Rp92 milyar di Bank Negara Indonesia (BNI).
Utang yang diperoleh PT GC, hal itu tidak bisa dilepaskan dari peran dan lobi Sofjan Wanandi yang waktu itu duduk sebagai Presiden Komisaris GC.
Ditambahkan oleh Usman, ketika utang tersebut direstrukturisasi oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), nama Sofjan Wanandi masih tercatat sebagai Presiden Komisaris PT GC.

Sebelumnya, dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi IX DPR waktu itu,Usman Ermulan sudah mempertanyakan kepada Menteri keuangan Bambang Sudibyo mengenai utang PT Gemala Container (GC) milik Sofjan Wanadi senilai Rp92
milyar, yang dicicil selama 184 tahun sebesra Rp500 juta/tahun dan tanpa
bunga di Bank Nasional Indonesia (BNI).

Namun, esoknya Direktur GC Herman Gozali menjelaskan bahwa utang GC senilai Rp92 milyar tersebut bukan merupakan utang pribadi Sofjan Wanadi, melainkan utang badan hukum PT GC. Bahkan, tambah heran, sejak berdirinya PT GC, Ketua Dewan Pengembangan Usaha Nasional (DPUKN) itu sudah tidak pernah menjabat lagi sebagai direksi, yang bertanggungjawab penuh atas jalannya perusahaan. Disebutkan, sejak 1 Maret 1998, Sofjan juga mundur sebagai komisaris.

Ada sebuah data yang yang disebutkan selain nama Sofjan Wanandi juga duduk masing-masing Hiroshi Yoshikawa, Adnan Pranadi dan Biantoro Wanandi sebagai komisaris PT GC. Sedangkan Presiden Direktornya adalah Edward Ismanto Wanandi, dan masing-masing direkturnya adalah Maerkus Winata,
Herman Gozali dan Kazuo Hanazawa.

Per tanggal 31 Maret 1999, berdasarkan fasilitas kredit di BNI terhadap kredit inevstasinya telah direstruktur dengan jaminan tanah, bangunan pabrik seluas 4,8 Hektar di Semper, Cilincing, Jakarta Utara.

Untuk kredit modal kerja, tambhanya juga telah direstrukturisasi dengan
jaminan mesin-mesin dan perlasatan FEO stock bahan baku dan invetory. Jumlah seluruhnya, telah direstrukturisasi senilai Rp92 milyar, yang telah dikonversi menjadi rupiah pada tanggal 24 Juni 1996 oleh (waktu itu) BNI'46.

Jaminannya penerimaan cessie, gadai saham, personal guarantee atas nama Edward I Wanandi dan Corporate Guarentee PT Gemala Tripakarsa.

Pemerintah menganak emaskan orang bermata sipit sehingga mereka yg 2 % populasi penduduk di Indonesia, 90 % ekonomi Indonesia dikuasainya mungkin karena feenya besar, minjamnya gede Milyaran rupiah. Coba penduduk pribumi yg minjam, persyaratannya setengah mati dan dipersulit. dan itu minjamnya hanya puluhan juta atau seratus juta ke bawah. Kita salut dengan mantan PM Malaysia DR.Mahatir Mohammad yg memberi fasilitas bagi penduduk asli Malaysia, sehingga ekonomi Malaysia jauh lebih maju dari perekonomian bangsa Indonesia. Betul Sabda Rasulullah : Di akhir zaman nanti Pemimpin akan membenci rakyat yg dipimpinnya dan Rakyat akan membenci pemimpinnya. Coba sekarang mana Pemimpin yang sayang dengan rakyatnya. Bila mereka jadi Pemimpin mereka berusaha mencari kekayaan utk sekian turunannya, rakyat hanya diberi janji2/harapan2 kosong menjelang mereka duduk sesuai dg apa yg mereka harapkan. Kalau Pemimpin itu sayang dengan rakyat yang dipimpinnya, pasti mereka tidak akan mau melanggar peraturan yg telah dibuat. Mereka akan berfikir bagaimana rakyat ini sejahtera. Suatu saat nanti kita berharap semoga Khilafah dan Syari'ah yg bersumberkan kepada Al Qur'an dan Hadist Rasulullah tegak di Indonesia, sehingga Insya Allah negara kita akan sejahtera, damai, adil makmur aman sentosa. Aamiin.... Maaf kalau ada yang merasa tersinggung....
Foto: NEGERI PARA BEDEBAH
UANG SETAN DIMAKAN JIN

SOFYAN WANANDI DAN UTANG 184 TAHUN
==========================================================

Ini bukan sulap dan bukan sihir. Ini betul-betul nyata dan terjadi di Indonesia. Seorang konglomerat sejak zaman Orde Baru, punya utang kepada sebuah bank sebesar Rp92 milyar, namun pembayaran cicilannya dapat dilakukan selama 184 tahun, tanpa bunga lagi.

Tetapi, Anda jangan heran. Karena begitulah adanya di republik ini.
Sementara bank-bank yang menerima kucuran dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) harus mengikatkan diri membayar utang-utangnya selama empat tahun dalam Maste Settelment Aqcusition Agrement (MSAA), tetapi mantan demonstran yang pernah mengeruk keuntungan di zaman Soeharto itu, bisa mencicil utangnya selama 184 tahun.

Ceritanya begini. PT Gemala Container (GC), salah anak perusahan dari Gemala Grup yang dimiliki Sofyan Wanadi, pada sekitar tahun 1995 meminjam uang senilai Rp92 milyar di Bank Nasional Indonesia (BNI). Pinjaman itu diperuntukan untuk membangun perluasan pabrik dan sejumlah kontainer di kawasan Semper, Cilincing, Jakarta Utara.

Yang dipertanyakan oleh Usman Ermulan, anggota Komisi IX DPR itu, kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Sudibyo pada era itu adalah apa dasarnya seorang konglomerat boleh mencicil utangnya selama 184 tahun. Tanpa bunga dan bebas saja.
Ditilik dari jumlah pembayarannya Rp500 juta/tahun, hal ini berarti uang

Sampai saat ini GC mempunyai utang terhadap BNI senilai Rp92 milyar, yang waktu itu peminjamannya dilakukan untuk membangun proyek container.persisnya utang tersebut dilakukan Sofyan diperkirakan pinjaman tersebut sudah dilakuakan sejak lama.

Pada awalnya, utang Sofyan ini berbentuk dolar Amerika Serikat. Namun, lanjutnya, kemudian dikonversi menjadi rupiah, yang pembayaran utangnya direstrukturisasi BNI sendiri. Tetapi dengan kesepakatan akan dicicil
setiap tahunnya Rp500 juta. Anehnya, tanpa bunga.

Padahal, Sofyan mempunyai deposito di BNI senilai Rp40 milyar. Yang mengherankannya, mengapa sih dengan deposito Rp40 milyar itu,BNI tidak mengambil bunganya. Padahal, menurut Usman bunganya pada waktu berkisar antara 10-13 persen/bulan. Apabila diambil 10 persen berarti jumlahnya Rp400 juta dan dia bisa menambah pembayaran sebesar Rp100 juta lagi.

Meskipun oleh bos PT GC, Herman Gozali disebutkan bahwa sejak 1 Maret 1998 Bos Gemala Grup, Sofjan Wanandi bukan lagi pemilik atau pemegang saham langsung dan tidak ikut mengendalikan jalannya PT Gemala Container (GC), namun dia tidak bisa mangkir dan melepaskan tanggungan utangnya senilai Rp92 milyar di Bank Negara Indonesia (BNI).
Utang yang diperoleh PT GC, hal itu tidak bisa dilepaskan dari peran dan lobi Sofjan Wanandi yang waktu itu duduk sebagai Presiden Komisaris GC.
Ditambahkan oleh Usman, ketika utang tersebut direstrukturisasi oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), nama Sofjan Wanandi masih tercatat sebagai Presiden Komisaris PT GC.

Sebelumnya, dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi IX DPR waktu itu,Usman Ermulan sudah mempertanyakan kepada Menteri keuangan Bambang Sudibyo mengenai utang PT Gemala Container (GC) milik Sofjan Wanadi senilai Rp92
milyar, yang dicicil selama 184 tahun sebesra Rp500 juta/tahun dan tanpa
bunga di Bank Nasional Indonesia (BNI).

Namun, esoknya Direktur GC Herman Gozali menjelaskan bahwa utang GC senilai Rp92 milyar tersebut bukan merupakan utang pribadi Sofjan Wanadi, melainkan utang badan hukum PT GC. Bahkan, tambah heran, sejak berdirinya PT GC, Ketua Dewan Pengembangan Usaha Nasional (DPUKN) itu sudah tidak pernah menjabat lagi sebagai direksi, yang bertanggungjawab penuh atas jalannya perusahaan. Disebutkan, sejak 1 Maret 1998, Sofjan juga mundur sebagai komisaris.

Ada sebuah data yang yang disebutkan selain nama Sofjan Wanandi juga duduk masing-masing Hiroshi Yoshikawa, Adnan Pranadi dan Biantoro Wanandi sebagai komisaris PT GC. Sedangkan Presiden Direktornya adalah Edward Ismanto Wanandi, dan masing-masing direkturnya adalah Maerkus Winata,
Herman Gozali dan Kazuo Hanazawa.

Per tanggal 31 Maret 1999, berdasarkan fasilitas kredit di BNI terhadap kredit inevstasinya telah direstruktur dengan jaminan tanah, bangunan pabrik seluas 4,8 Hektar di Semper, Cilincing, Jakarta Utara.

Untuk kredit modal kerja, tambhanya juga telah direstrukturisasi dengan
jaminan mesin-mesin dan perlasatan FEO stock bahan baku dan invetory. Jumlah seluruhnya, telah direstrukturisasi senilai Rp92 milyar, yang telah dikonversi menjadi rupiah pada tanggal 24 Juni 1996 oleh (waktu itu) BNI'46.

Jaminannya penerimaan cessie, gadai saham, personal guarantee atas nama Edward I Wanandi dan Corporate Guarentee PT Gemala Tripakarsa.

Pemerintah menganak emaskan orang bermata sipit sehingga mereka yg 2 % populasi penduduk di Indonesia, 90 % ekonomi Indonesia dikuasainya mungkin karena feenya besar, minjamnya gede Milyaran rupiah. Coba penduduk pribumi yg minjam, persyaratannya setengah mati dan dipersulit. dan itu minjamnya hanya puluhan juta atau seratus juta ke bawah. Kita salut dengan mantan PM Malaysia DR.Mahatir Mohammad yg memberi fasilitas bagi penduduk asli Malaysia, sehingga ekonomi Malaysia jauh lebih maju dari perekonomian bangsa Indonesia. Betul Sabda Rasulullah : Di akhir zaman nanti Pemimpin akan membenci rakyat yg dipimpinnya dan Rakyat akan membenci pemimpinnya. Coba sekarang mana Pemimpin yang sayang dengan rakyatnya. Bila mereka jadi Pemimpin mereka berusaha mencari kekayaan utk sekian turunannya, rakyat hanya diberi janji2/harapan2 kosong menjelang mereka duduk sesuai dg apa yg mereka harapkan. Kalau Pemimpin itu sayang dengan rakyat yang dipimpinnya, pasti mereka tidak akan mau melanggar peraturan yg telah dibuat. Mereka akan berfikir bagaimana rakyat ini sejahtera. Suatu saat nanti kita berharap semoga Khilafah dan Syari'ah yg bersumberkan kepada Al Qur'an dan Hadist Rasulullah tegak di Indonesia, sehingga Insya Allah negara kita akan sejahtera, damai, adil makmur aman sentosa. Aamiin.... Maaf kalau ada yang merasa tersinggung....