Rabu, 27 Agustus 2014





Anggito Abimanyu Akui Selama Ini Tidak Pernah Ada Subsidi BBM

Akhirnya Anggito Abimanyu, salah satu fundamentalis neo-liberal Indonesia yang selalu bersikeras menaikkan harga BBM dengan alasan “mengurangi beban subsidi BBM“, mengakui bahwa selama ini tidak pernah ada subsidi dalam BBM.
“Masih ada surplus penerimaan BBM dibanding biaya yang dikeluarkan,” katanya dalam acara talkshow di TVOne hari Senin (13/03/2012), terkait rencana kenaikan harga BBM akibat kenaikan harga BBM dunia. Anggito menjadi salah satu narasumber bersama Kwik Kian Gie dan Wamen ESDM.
Mungkin Anggito tidak akan pernah memberikan pengakuan seperti itu kalau saja tidak karena ada Kwik Kian Gie yang telah lama menyampaikan pendapatnya bahwa isu “subsidi” adalah pembohongan publik, dan pendapat itu diulangi lagi dalam acara talkshow tersebut di atas.
Pengakuan tersebut menunjukkan dengan sangat-sangat gamblang bahwa isu “subsidi” yang selama ini digembar-gemborkan pemerintah sebagai alasan kenaikan harga BBM adalah sebuah “pembohongan”. Sebagaimana pengakuan Anggito, tidak ada subsidi BBM, bahkan ketika saat ini harga BBM dunia mencapai $120 per-barrel.
Meski dalam blog ini pernah saya kupas secara mendetil mengenai penghitungan biaya dan penerimaan BBM oleh pemerintah, saya ingin kembali mereview-nya secara sederhana. Jika pemerintah mengambil BBM secara cuma-cuma dari dalam bumi Indonesia dan kemudian mengekplorasinya dengan biaya $20 per-barrel, sementara harga minyak dunia tidak pernah di bawah biaya produksi tersebut, darimana munculnya subsidi? Hanya orang bodoh moron idiot yang masih percaya pada bualan soal “subsidi” tersebut.
Meski terlambat dan menunjukkan dirinya sebagai pengkhianat rakyat dan pengkhianat nuraninya sendiri selama menjadi pejabat negara (kini Anggito bukan lagi pejabat pengambil kebijakan ekonomi), pengakuan Anggito (mantan dosen saya waktu mahasiswa) sebenarnya menjadi koreksi “kebijakan pemerintah” dalam soal BBM. Namun alih-alih pemerintah terus saja menggunakan isu “subsidi” imaginatif untuk melegitimasi rencana kenaikan harga BBM, termasuk dalam iklan sosialisasi kenaikan harga BBM yang saat ini gencar ditayangkan di televisi.
Dalam diskusi tersebut Anggito memang tetap mendukung rencana kenaikan harga BBM, namun kini dengan alasan yang lebih rasional, tidak lagi menggunakan imajinasi “subsidi”, melainkan demi mengurangi beban APBN. Dan inilah yang mestinya menjadi dasar kebijakan pemerintah, mengurangi beban APBN tanpa harus menipu rakyat.
Baik, kalau hanya mengatasi “tekanan” APBN ada banyak cara untuk mengatasinya tanpa harus menyengsarakan rakyat sebagaimana kebijakan menaikkan harga BBM. Bisa mengintensifkan penerimaan pajak yang selama ini lebih banyak “beredar” di “pasar gelap pajak” sebagaimana ditunjukkan dalam kasus Gayus Tambunan. Bisa dengan mengintensifkan pencegahan tindak korupsi sehingga dana APBN yang banyak bocor bisa diarahkan ke pos-pos yang produktif. Cara lainnya adalah meningkatkan produksi BBM sehingga penerimaan pajak BBM meningkat. Dan tentu saja adalah pengelolaan APBN yang efektif dan efisien.
Ada 1.000 cara lebih bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi tekanan APBN akibat kenaikan harga minyak dunia tanpa harus menaikkan harga BBM. (muslimdaily/globalmuslim)

Mengurangi Subsidi BBM atau Menaikkan Harga BBM?


Rieke Tolak Kenaikan harga BBM
Jika tujuannya ingin mengurangi subsidi BBM gampang. Ada banyak cara.
Pertama kendaraan pribadi seperti Mobil dan Sepeda Motor harus pakai Pertamax. Cuma kendaraan angkutan umum atau sembako saja yang boleh beli Premium.
Kemudian mobil Pribadi dengan harga Rp 300 juta ke atas, kenakan saja pajak STNKnya 10% dari harga beli kendaraan. Jadi yang beli Mercy Rp 1 milyar, pajaknya ya Rp 100 juta. Balik kan subsidi yg diterima pemilik mobil mercy tsb? Malah pemerintah jadi untung.

Kalau sekedar menaikkan harga BBM sih hanya menguntungkan perusahaan minyak dan menyengsarakan rakyat. Biar rakyat tidak punya mobil/motor, tarif angkutan umum akan naik dan harga2 barang seperti Sembako juga akan naik.

Kenaikan Harga BBM Bikin Rakyat Susah

Kenaikan Harga BBM
Kenaikan harga BBM dari Rp 150/liter di tahun 1980 hingga di tahun 2014 jadi Rp 6500/liter tidak membawa kesejahteraan rakyat. Dinaikkan jadi Rp 1 juta/liter pun Indonesia tidak akan maju.
Kenapa?
Pemerintah mungkin dapat tambahan uang banyak dari kenaikan harga BBM. Tapi harga2 barang juga naik. Dan justru uang rakyat jadi lebih sedikit karena harus bayar BBM lebih banyak.
Yang tidak punya mobil pun harus bayar angkot lebih mahal. Mereka juga harus bayar sembako lebih mahal karena ongkos distribusi juga naik.
Sebaliknya Arab Saudi yang menasionalisasi perusahaan minyak AS Aramco tahun 1975, berhasil meningkatkan pendapatan negaranya dengan amat besar. Ini karena keuntungan minyak yang didapat Aramco beralih ke Arab Saudi. Keuntungan bukan sekedar bagi hasil saja. Tapi juga penipuan besar produksi dari 4 juta bph dilaporkan cuma 1 juta bph.
Selama Kekayaan Alam Dirampok Asing Indonesia Akan Terus Miskin
Kenaikan Harga BBM Sejak 1980
Tahun Harga Premium Harga Solar Masa Pemerintahan
1980 Rp 150 Rp 52,5 Soeharto
1991 Rp 550 Rp 300 Soeharto
1993 Rp 700 Rp 380 Soeharto
1998 Rp 1.200 Rp 600 Soeharto
2000 Rp 1.150 Rp 600 Gus Dur
2001 Rp 1.450 Rp 900 Gus Dur
2002 Rp 1.550 Rp 1.150 Megawati
2003 Rp 1.810 Rp 1.890 Megawati
Maret 2005 Rp 2.400 Rp 2.100 SBY
Oktober 2005 Rp 4.500 Rp 4.300 SBY
2008 Rp 6.000 Rp 5.500 SBY
2009-2012 Rp 4.500 Rp 4.500 SBY
Sumber : Kementerian ESDM
BBM 2008 : Naik 1.000.000% Sejak Era Bung Karno