Rabu, 27 Agustus 2014

Kenaikan Harga BBM Miskinkan Rakyat dan Menambah Kejahatan

anjunganminyak
Kalau kita lihat data statistik BPS, mobil pribadi itu cuma 9,5 juta. Itu pun mungkin 80% adalah mobil2 tua yg tak layak jalan. Sisanya adalah truk, bis, dan 68 juta Sepeda Motor. Sepeda Motor itu kurang nyaman dan aman. Boleh dikata 90% pemakainya adalah orang2 miskin yg tak mampu naik bis/KRL karena ongkos kendaraan umum mahal. Dibanding jumlah rakyat yg 242 juta jiwa, jelas pemilik mobil pribadi itu kurang dari 5%. Artinya 95% subsidi itu sudah tepat sasaran. Kalau mau mengambil 5% Subsidi yg salah sasaran, kenakan saja pajak STNK yg tinggi bagi pemilik kendaraan pribadi. Misalnya 10% dari harga yg beli. Misalnya dia beli mobil Rp 1 milyar. Dia harus bayar pajak Rp 100 juta. Artinya itu bisa menutupi 10.000 liter bensin/tahun atau hampir 300 liter bensin/hari. Jangan sampai pengurangan subsidi menyengsarakan 80% rakyat menengah ke bawah karena kenaikan harga2 lainnya
Kenaikan harga BBM akan memiskinkan rakyat karena harga2 barang otomatis akan naik. Sementara pendapatan rakyat tak meningkat. BLSM pun cuma 5 bulan dgn besar rp 150 ribu/bulan:
Kemiskinan Meningkat, Kriminalitas juga naik: Kompas.com, 28-5-2008 – Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) memperkirakan angka kriminalitas akan meningkat sebagai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Kenaikan harga BBM hampir pasti akan menyebabkan semakin sempitnya lapangan kerja baru akibatkan pengangguran bertambah, dan yang jelas akan memicu angka kriminalitas,” kata Peneliti P2E LIPI Dr Wijaya Adi di Jakarta, Rabu (28/5).
Dia mencontohkan, ketika Pemerintah menaikkan harga BBM tahun 2005 lalu angka kriminalitas juga naik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah tindak pidana 2005 sebesar 256.431 kasus, sedangkan sebelum menaikkan harga BBM, tepatnya 2004, angka kriminal 220.886 kasus. “Dengan kata lain angkanya naik 16,09 persen,” katanya.
Harusnya korupsi, gaji raksasa pejabat dulu yg dihapus. Lihat bagaimana gaji pejabat BUMN/Gubernur BI bisa lebih dari RP 200 juta/bulan. Belum sabetannya:
Untuk gaji2 besar pejabat, fasilitas rumah dan mobil mewah pejabat, studi banding milyaran rupiah, pemerintah selalu punya uang banyak. Tak ada rasa sense of crisis.
Tapi saat bicara “Subsidi” untuk rakyat, pemerintah seperti tidak punya uang sama sekali. Tiba2 sense of crisisnya tinggi sekali… :)
Harga BBM di Indonesia (RON 95) 2x lipat lebih tinggi dari Malaysia. Padahal pendapatan rakyat Malaysia 4x lipat rakyat Indonesia:
http://en.wikipedia.org/wiki/Gasoline_and_diesel_usage_and_pricing RON 95: Indonesia 1.22$/ltr, Malaysia 0.6$/ltr , Vietnam 1.11 . Venezuela 0.015
Banyak Mismanagement/Salah Urus minyak di Indonesia yang harus dibenahi dulu. Solusinya: Nasionalisasi Semua perusahaan minyak di Indonesia. Biar semuanya dikelolah oleh 3 BUMN minyak agar bisa bersaing. Dgn dikuasai oleh perusahaan minyak asing, Produksi minyak di Indonesia di era Soeharto yang 1,5 juta bph sekarang turun jadi 0,8 juta bph setelah kontrol minyak diserahkan dari Pertamina ke BP Migas.
Begitu pula minyak kurang, kok malah ekspor? Itu harus dibenahi dulu. Baru kita bicara tentang pengurangan Subsidi BBM.
Produksi Minyak Minim, Tapi Kok RI Ekspor Minyak? “Negara-negara yang membeli produksi minyak Indonesia di antaranya Jepang, Amerika Serikat, Korea, Taiwan, Singapura dan lainnya. Jepang merupakan negara terbesar pembeli minyak Indonesia yakni pada 2010 mencapai 19,3% dari total ekspor minyak atau mencapai 23.407 ribu barel sedangkan pada 2011 sekitar 36.823 ribu barel (36,6%), sementara Amerika pada 2010 membeli minyak Indonesia sebanyak 4.779 ribu barel dan pada 2011 sekitar 5.553 ribu barel,” demikian pernyataan Ditjen Migas. http://finance.detik.com/read/2012/04/10/123316/1888718/1034/produksi-minyak-minim-tapi-kok-ri-ekspor-minyak
Aneh juga melihat produksi minyak Indonesia yang kian menurun. Tahun 1973-2000 produksi ratarata minyak Indonesia mencapai 1,5 juta bph (REPUBLIKA :: 04 April 2012). Ini terjadi saat Pertamina masih memegang kontrol yang kuat atas para operator.
Namun semenjak Pertamina dilemahkan pada era Reformasi, produksi minyak justru melorot hingga 0,8 juta bph.
“Ada yang bilang produksi minyak (lifting) 950.000 barel per hari (bph), bahkan saat ini turun 930.000 bph, atau bahkan pada jaman Presiden Suharto 1,4 juta bph. Jujur saya tidak percaya, pasalnya siapa yang menentukan lifting produksi minyak kita,” kata Fuad di Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar Gambir, Senin (2/4/2012). http://finance.detik.com/read/2012/04/02/143757/1882885/4/dirjen-pajak-tak-percaya-lifting-minyak-indonesia
Ada yg bilang sumbernya habis.
Kalau habis niscaya pada hengkang pak perusahaan2 minyak AS tsb. Nyatanya pendapatan mereka naik terus sehingga Exxon dan Chevron masuk 10 perusahaan terkaya di dunia versi Forbes 500
11 hours ago · Like
Lihat kenaikan keuntungan Exxon sampai 35% jadi $41.1 billion (Rp 410 trilyun): http://money.cnn.com/magazines/fortune/fortune500/2012/snapshots/387.html
Ini 1 contoh kecurangan laporan. Jumlah produksi cuma dilaporkan 1/4 saja: Agus Marto Wardojo: Dia juga mengemukakan, saat ini pemerintah mensinyalir adanya indikasi ekspor ilegal. Dalam catatannya, di salah satu industri pertambangan, dalam satu tahun Indonesia hanya bisa ekspor 5 juta ton pada sebuah kawasan. “Ternyata di luar, impor dari Indonesia mineral itu 20 juta ton per tahun. Kan sayang sekali itu, kalau yang tercatat ekspor 5 juta ton tetapi jumlah yang diimpor dari Indonesia sampai 20 juta ton, artinya jadi ekspor ilegal dong,” tambahnya. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/04/22/10264265/Ini.Alasan.Pemerintah.Beli.Saham.Newmont
Exxon saat disuruh Pertamina mengeksplorasi blok Migas Cepu lapor kalau tak ada cadangan migas di sana. Ternyata usai Reformasi, Exxon malah merebut blog Migas Cepu karena cadangannya amat banyak. Pak Marwan Batubara tahu hal ini. Nah di Jawa saja, blok Migas belum dieksplor habis. Lapindo itu jelek2nya banyak gasnya lho. Makanya ada api dan semburannya. Itu Jawa yg padat penduduknya. Belum Natuna, Sumatera, Kalimantan, Papua, Sulawesi, dsb.
Arab Saudi cukup cerdas menasionalisasi perusahaan Aramco tahun 1974. Tahun 1970-an, Arab Saudi masih termasuk negara miskin. Kekayaan alam mereka berupa minyak tidak dapat mensejahterakan mereka karena dikuasai perusahaan AS, Aramco. Namun sejak raja Faisal menasionalisasi Aramco, maka seluruh hasil minyak dapat dinikmati oleh rakyat Saudi Arabia. Jumlah uang yang masuk untuk pembangunan pun berlimpah sehingga listrik di sana gratis, sementara bensin cuma Rp 1700/liter. Ini jauh lebih murah ketimbang Indonesia yang Rp 4.500/liter saja sudah ribut soal kurangnya subsidi karena 90% migas kita dikuasai perusahaan migas asing. http://infoindonesia.wordpress.com/2009/06/30/selama-kekayaan-alam-dirampok-asing-indonesia-akan-terus-miskin/
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=17&notab=12
Partai yang mendukung Kenaikan Harga BBM adalah: PD, PAN, Golkar, PPP, dan PKB
Partai yang menolak Kenaikan Harga BM adalah: PKS dan PDIP
Tokoh yang mendukung kenaikan harga BBM: Jero Wacik, Hatta Radjasa, SBY,